Selasa, 25 September 2012

Dualisme Pers Islam pada Orde Baru



Oleh: Yusran
            Sebelum memulai Zaman Orde Baru, Indonesia masih dalam keadaan tidak stabil. Hal ini dikarenakan belum adanya suatu sistem politik ataupun sistem ketatanegaraan yang efektif. Indonesia masih mencari bentuk ketatanegaraan yang pas. Namun dalam tahap berikutnya, zaman orde baru, bentuk ketatanegaraan yang diaplikasikan bukan berdasarkan kondisi negara pada saat itu, sehingga tidak relevan antara bentuk ketatanegaraan dengan kondisi negara. Misalnya pembuatan Tap MPR No. II/ MPR/ 1973. Pembuatan Tap MPR ini seolah-olah mengeliminasi semangat pasal 6 ayat (2) UUD 1945 dan semakin jauh dari nilai-nilai demokratis karena adanya ketentutan bahwa calon presiden dari fraksi.[1] Perubahan tersebut bukan lahir karena ketidak efektifan dari ketatanegaraan sebelumnya, tetapi perubahan ini dilakukan untuk melegitimasi pemerintah. Jadi perubahan ini dilakukan bukan karena esensinya tetapi ada unsur politiknya.
            Menurut Edwar Shils mengatakan ciri-ciri negara baru yang berada si Asia dan Afrika adalah:
a.      Aparatur negara masih baru sifatnya
b.      Struktur sosial, ekonomi, dan kebudayaan masih baru sifatnya
c.       Menginkan modernisasi.
            Gambaran Shils tentang negara baru yang terfokus pada kondisi dari sebuah negara-negara baru serta tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Sebuah hipotesa yang diajukan oleh Shils adalah kebijakan yang dibuat negara baru merupakan suatu pengharapan seperti kemajuan dunia barat. Kemajuan yang tampak adalah berbagai fasilitas yang tersedia. Pembangunan merupakan tolak ukur bagi masyarakat negara-negara baru. Namun keberhasilan pembangunan yang diperoleh negara-negara maju adalah sebuah hasil pendapatan negara bukan peminjaman dari negara asing. Pernyataan ini yang tidak didefinisikan dengan tepat oleh pemerintah negara baru. Pemerintah negara baru mendirikan berbagai gedung-gedung yang besar. Gedung tersebut berfungsi sebagai penyirkulasikan dari semua aktifitas. Hal ini terjadi di negara asia dan afrika, khususnya di Indonesia.
            Modernisasi menurut pandangan barat, pendirian gedung merupakan hasil dari kerja yang dimulai dari ruang lingkup kecil. Dan setelah terjadinya suatu perkembangan dan hubungan yang luas maka perlu tempat penampungan yang digunakan lebih besar. Maka dari diperlukan gedung untuk mewadahi aktifitas tersebut.  Namun di Indonesia berbeda. Untuk menggerakkan perekonomian awalnya dengan pendirian gedung ataupun tempat bekerja. Akibatnya, mekanisme fungsi dari gedung tersebut masih skeptis. Pendirian dari gedung tersebut bukan dari tahapan kecil. Untuk itu mereka membutuhkan waktu untuk menempatkan orang-orang yang dapat yang bekerja di gedung tersebut. Dan juga mereka harus memberikan pendidikan kepada pekerja untuk menjalankan gedung-gedung tersebut. Karena kondisi menuntut agar menyegerakan pembangunan, maka orang yang terdekat dan  bekerjasama dengan Soeharto  dalam penggulingan orde lama ditempatkan di birokrasi tertentu di gedung-gedung tersebut. Hal ini menjadi sebuah fenomena yang berkelanjutan.
            Di Indonesia, massa orde baru, perekonomian diperoleh dari peminjaman luar negeri. Selama dan lepasnya orde lama terjadi kemorosotan ekonomi. Pada zaman orde lama hanya terfokus kepada politik tanpa terfokus terhadap perekonomian. Jadi pada zaman orde baru, pemerintah mengupayakan langkah-langkah dalam perekonomian. Langkah-langkah tersebut seperti membuka kerja sama dengan negara-negara luar, menjadi member IMF, dan meminjam dana dari lembaga dunia.
            Pada zaman orde baru antara pencapaian perekonomian dan politik tidak seimbang. Pemerintah orde baru lebih mengutamakan kemajuan perekonomian. Langkah-langkah untuk pembangunan ekonomi tanpa ada unsur politik. Kondisi yang terjadi adalah unsur politik menjadi pengahambat perekonomian. Dalam pembangunan perlu diiringi dengan unsur politik. Karena politik akan memacu prosres dari sebuah pembangunan. Selanjutnya yang terjadi adalah pemerintah akan menimalisir bentrokan terhadap unsur politik. Pemerintah zaman orde baru, akan tetap berusaha untuk memperlihatkan bahwa pemerintah adalah sebuah pengharapan bagi masyarakat Indonesia. Langkah-langkah yang dilakukan oleh menguasai dari sebuah lini untuk mengontrol apa yang diinginkan oleh pemerintah.
            Pada Zaman Orde Baru, pengaturan suatu pemerintahan diiringi dengan langkah-langkah pendistribusian langsung pemerintahan pusat terhadap suatu lembaga. Pendistribuan langsung ini, akan memperlihatkan proses secara detail dari kegiatan dari suatu lembaga tersebut. Dan juga tidakan ini akan mengidentifikasi penyelewengan-penyelewengan seorang pekerja di lembaga tersebut. Hal ini mengakibatkan suatu kecurigaan. Bukannya program suatu lembaga pemerintah harus disetujui dulu oleh pemerintah pusat? Dengan hal ini dapat dikatakan bahwa suatu lembaga sebenarnya sebuah alat pengelabui untuk dapat menjalankan pemerintahan pusat.
            Pada zaman orde baru ada tiga perangkat negara yang harus dikuasai. Tiga perangkat tersebut adalah:
1.      Militer
Militer sebagai alat pemaksaan kepada masyarakat untuk melaksanakan kebijakan pemerintah.
2.      Partai politik
Partai politik sebagai pembentuk opini masyarakat. Partai politik akan mentranformasikan kepada masyarakat. Dalam hal ini mereka membentuk suatu pikiran bahwa masyarakat butuh suatu intervensi pemerintah dalam kesejahteraan mereka. Tentu sebelumnya partai tersebut mendoktrin pikiran masyarakat dengan diimingi dengan kesejahteraan bagi masyarakat.
3.      Media massa.
Pers sebagai penetralisasi realita. Pada zaman orde baru banyak terjadi kontradiksi terhadap pemerintah orde baru. Untuk tidak tersebarnya keadaan tersebut maka dibutuhakan media massa. Media ini memberikan informasi yang diinginkan oleh pemerintah.
            Akibat dari kebijakan pemerintah tersebut adalah distorsi realita. Apa yang diinformasikan oleh media tidak sesuai dengan sebenarnya. Secara garis besar ada 3 akibat dari kebijakan pemerintah:
1.      Munculnya organisasi yang bergerak secara sembunyi-sembunyi. contohnya[3] HMI, Fsi, dan KAMMI.
2.      Pemvakuman dari pemimpin tradisional. Hal ini dilakukan untuk mengurangi penguasaan dari pemimpin lokal. Pengaruh dari penguasa lokal lebih dominan dari pengaruh pemerintah. Perhatian masyarakat kepada pemimpin lokal dikarenakan hal yang primordial dan juga kebudayaan. Karena telah terbentuk suatu pemikiran tersebut maka sangat sulit untuk merubah suatu pikiran tersebut. Untuk itu pemerintah melakukan penyogokan kepada masyarakat. Dengan penyogokan ini pemerintah dapat melakukan apa yang diinginkan. Tanpa menghilangkan peranan dari pemuka adat dan memfungsikan mereka sebagai penyalur kebijakan pemerintah.
3.      Terjadinya distorsi realita.
Membentuk suatu oposisi biner[4]. Misalnya pemerintah membuat suatu  pasangan yang berlawanan.  Dan pemerintah selalu terletak pada posisi nonkonfrontasi. Jadi pertentangan yang dilakukan oleh organisasi lain dicap sebagai penentang pemerintahan. Masyarakat kecil yang terdoktrinisasi akan melakukan pemberontakan terhadap organisasi yang kontra terhadap pemerintah. Karena mereka telah menganggap bahwa pemerintah telah melakukan kewajibannya sehingga organisasi yang memberontak adalah orang yang tidak senang dengan apa yang mereka dapat dari pemerintah.
Peranan pers sangat dominan untuk memperkokoh kekuasaan. Namun dengan adanya unsur yang tidak pragmatis pemerintah maka terjadi polarisasi media pers. Adapun penyebab dari semua itu adalah[5]:
1.      Tujuan yang berbeda dari kelompok Islam.
Pada zaman orde baru ini pemerintah memecah pers islam dengan cara meninggikan gaji wartawan pers di bawah kendali pemerintah
2.      Kontrol yang terlalu ketat oleh pemerintah.
3.      Kekurangan tenaga profesional.


 Tentang penulis
Nama             : Yusran Ilyas
Tmpt/Tgl lahir : Payakumbuh, 3 Maret 1990
Jurusan            : Ilmu sejarah
BP                    : 0810712029


[1] Saldi Isra, “Reformasi Hukum Tata Negara”, Andalas University press, 2006, Hal 111
[2] Edwars shils, “ Angkatan Bersenjata dalam Pembangunan Polititik Negara-negara baru”. buku kumpulan artikel oleh Sartonokartodirjo, Jakarta, 1983. Hal 182
[3] Eka Vidya Putra, Gerakan Mahasiswa dan Otoritanisme Negara”. Jakarta, 2003. Hal 71
[4] Opcid hal 55
[5] Al chaidar, Pemilu 1999 Pertarungan Ideologis Partai-partai Islam vs Partai sekuler, Darul Falah, 2000. Hal 100

KEHIDUPAN SAUDAGAR DI RANTAU PESISIR MINANGKABAU


Oleh
Ari Febrianto, mahasiswa Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas


Wilayah Minangkabau secara umum dapat dibagi ke dalam dua kategori yaitu Luhak dan Rantau. Luhak merupakan wilayah inti Minangkabau dan merupakan pusat kebudayaan Minangkabau. Daerah Luhak dikenal juga dengan sebutan daerah Darek (Darat) karena terletak di dataran tinggi. Wilayahnya meliputi Luhak Nan Tigo yaitu Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Lima Puluh Kota.
Daerah Rantau adalah tempat orang Minangkabau merantau yang berada di luar wilayah Luhak. Rantau adalah wilayah pemukiman yang dibangun oleh orang-orang yang berasal dari Darek. Oleh karena pada umumnya merupakan pemukim pantai, daerah-daerah pemukiman ini adakalanya dibangun oleh orang-orang dari luar Minangkabau. Jika Darek homogen dan asli dari segi budaya maupun etnis, maka Rantau heterogen dan “campuran” (Kato, 1986; Naim, 1984).
Sepanjang sejarahnya, masyarakat Minangkabau telah menyaksikan saling pengaruh- mempengaruhi yang tiada hentinya antara Darek dan Rantau. Rantau adalah saluran ke luar dari sejumlah akibat kelebihan tenaga di Darek, kelebihan penduduk, kekecewaan, keingintahuan, atau ambisi dan tenaga yang lebih bagi perluasan Rantau. Darek turut menikmati kekayaan dan pembaharuan-pembaharuan yang berasal dari Rantau; Darek memberikan identitas sebagai bagian dari Alam Minangkabau, di samping menyediakan sumberdaya manusia yang perlu bagi perluasannya. Dalam tata hubungan yang saling tergantung ini, Rantau bukanlah sekedar embel-embel bagi Alam Minangkabau (Kato, 1986).
Dalam usaha menggambarkan masyarakat Minangkabau, baik tradisional maupun modern, ada kecendrungan yang kuat untuk memusatkan perhatian pada Darek, Sebab Darek dipandang sebagai perwujudan adat Minangkabau yang lebih asli; namun Rantau sendiri pun  perlu mendapat perhatian. Kehidupan saudagar di Pesisir memberi pemahaman bagaimana Rantau yang sebenarnya dan bagaimana keadaan penduduknya. Jika yang menjadi tokoh di Darek yang umumnya hidup dari sawah dan sifatnya lebih menetap, adalah Penghulu, maka yang menjadi tokoh di Rantau yang sifatnya lebih komersial itu adalah saudagar.
Kehidupan saudagar di daerah Pesisir selama ini digambarkan dengan kehidupan pantai dan laut, tapi hal itu ternyata tidak mutlak adanya, karena sebagian saudagar Pesisir ada yang tidak berkecimpung dalam dunia maritim, dalam perkembangannya sekarang mereka lebih cendrung beraktivitas di Darek dan lebih banyak memanfaatkan daratan, karena darat memiliki akses jalur transportasi ke daerah Darek lain yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan jalur Pesisir/laut.
Saudagar di Pesisir Minangkabau, adalah suatu bentuk kehidupan yang sangat menarik, karena apabila dilihat dari pola perdagangan di daerah Pesisir Minangkabau yang memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan daerah Darek. Dinamika kehidupan yang dijalani oleh saudagar Pesisir yang unik, strategi yang dilakukan dalam mempertahankan eksistensi perdagangan, dan pola hubungan yang  dibangun dengan saudagar-saudagar yang lain, baik yang berasal dari daerah yang sama maupun daerah yang berbeda.

Perdagangan di Rantau Pesisir
            Berdagang menjadi salah satu ciri khas bagi orang Minang pada umumnya, karena sebagian yang merantau ke daerah-daerah lain termasuk daerah Pesisir, mereka mayoritas melakukan usaha/bekerja sebagai pedagang.
            Berdagang merupakan salah satu kultur yang menonjol dalam masyarakat Minangkabau. Bagi masyarakat Minangkabau, berdagang tidak hanya sekedar mencari nafkah dan mengejar kekayaan, tetapi juga sebagai bentuk eksistensi diri untuk menjadi seorang yang merdeka. Dalam budaya Minangkabau yang egaliter, setiap orang akan berusaha untuk menjadi seorang pemimpin. Menjadi sub-ordinat orang lain, sehingga siap untuk diperintah-perintah, bukanlah suatu pilihan yang tepat. Prinsip “lebih baik menjadi pemimpin kelompok kecil daripada menjadi anak buah organisasi besar” (elok jadi kapalo samuik daripado ikua gajah) merupakan prinsip sebagian besar masyarakat Minangkabau.
            Menjadi seorang pedagang  merupakan salah satu cara memenuhi prinsip tersebut, sekaligus menjadi orang yang merdeka. Dengan berdagang, orang Minangkabau bisa memenuhi ambisinya, dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan keinginannya, hidup bebas tanpa ada pihak yang mengekang. Banyak perantau muda Minangkabau lebih memilih berpanas-panas terik di pinggir jalan, berteriak berjualan obral, daripada harus kerja kantoran yang acapkali disuruh dan dimarah-marahi.
            Berkembangnya kultur dagang dalam masyarakat Minangkabau disebabkan dengan adanya harta pusaka tinggi yang menjamin kepemilikan tanah dan keberlangsungannya bagi setiap kaum di Minangkabau. Dengan kepemilikan tanah tersebut, posisi masyarakat Minangkabau tidak hanya sebagai pihak penggarap saja, melainkan juga menjadi pedagang langsung yang menjual  hasil-hasilnya ke pasaran.  
Perkembangan dunia pedagang Minangkabau sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari sistem budaya masyarakatnya. Seperti sudah diungkapkan oleh banyak ahli, sistem budaya Minangkabau merupakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya minat dagang dalam masyarakatnya. Akan tetapi pada sisi lain sistem budaya Minangkabau itu juga menjadi bagian perkembangan dunia pedagang Minangkabau. Dengan demikian nampaknya sistem budaya Minangkabau itu bersifat ambivalen terhadap perkembangan dunia pedagang Minangkabau.
Saudagar lebih banyak memanfaatkan dan memperdagangkan hasil-hasil pertanian dan peternakan yang di hasilkan dari daerahnya sendiri, seperti misalnya ikan kering, padi, karet, kayu manis, sapi, kerbau dan beberapa produk lainnya yang menjadi komuniti di daerah Pesisir.

Kehidupan Saudagar di Rantau Pesisir
            Kehidupan saudagar di daerah Pesisir di identikkan dengan materi yang melimpah, kesuksesan, ketenaran, dan yang paling mendukung adalah kepercayaan dari masyarakat, karena setiap saudagar tidak selalu mengandalkan materi dalam berdagang, masyarakat lebih menghargai kepercayaan dan kejujuran.
            Dengan kehidupan yang serba berkecukupan, masyarakat memandang seorang saudagar sebagai orang yang disegani dan sukses, sehingga tidak dapat di pungkiri saudagar-saudagar di Rantau Pesisir selalu memiliki hubungan baik dengan masyarakat dan sangat umum dikenal sebagai orang yang memiliki banyak istri, karena di semua tempat yang pernah disinggahi untuk berdagang pasti ditempat itu akan ada saja wanita yang mau di jadikan istri, sebagai tempat bermalam.
            Kehidupan saudagar di Rantau Pesisir memang berbeda dan memiliki keunikan, saudagar memiliki ruang dan tempat tersendiri di hati keluarga, masyarakat, bahkan memiliki hubungan baik dengan saudagar-saudagar lain. Walaupun dalam berdagang mereka bersaing, tapi dibelakang itu mereka memiliki kedekatan dan hubungan yang harmonis.
Kamar, yang merupakan salah satu pedagang yang berasal dari daerah Pesisir, merupakan salah satu profil saudagar tradisional yang menjadi kaya dengan usahanya tersebut. Kamar yang pernah menikah sebanyak dua belas kali ini, memilih melakukan perdagangan ke Kota Padang karena Padang memiliki akses jalur transportasi ke daerah Darek yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan daerah Pesisir lainnya. Jenis barang dagangan yang dibawa Kamar ke Padang adalah barang-barang hasil pertanian dan hasil ternak seperti Padi, sapi, dan kerbau yang dihasilkan dari Nagari Surantih dan nagari-nagari sekitarnya.
Sebagai saudagar, Kamar dalam menjalankan usaha dagang tidak semata-mata mengandalkan materi dan uang yang berlimpah, tapi lebih mengutamakan kejujuran dan kepercayaan. Dengan modal dasar ini, Kamar merintis usaha dagangnya dan inilah yang membedakan dan membuat Kamar menjadi salah satu saudagar yang berhasil dengan usaha yang dirintisnya.
sebagai langkah awal dalam menekuni dunia persaudagaran, Kamar mendirikan “gudang roti gulo” yang menjadi semakin laris dan mendapatkan keuntungan yang berlimpah, kemudian menambah usaha lain dengan memperdagangkan sapi dan kerbau yang mulai di kirim ke Padang dengan menggunakan jalur darat, walaupun memerlukan waktu yang cukup lama (enam hari dengan berjalan kaki), memperkerjakan banyak orang yaitu satu ekor sapi akan dikawal oleh 2 (dua) orang (kalau untuk kerbau 3 orang). Sebagai pedagang yang memiliki naluri yang tajam dalam berdagang tidak terkecuali  hasil pertanian juga diperdagangkan seperti padi yang juga di kirim ke Padang mengunakan “biduak” sebagai transportasinya.
Dengan kata petuah yang sering diucapkan dan diterapkannya “di dunia ini tidak ada yang paling berharga kecuali kejujuran”. Kamar berhasil menjadi saudagar yang disegani dan dihormati baik dikalangan sesama saudagar ataupun masyarakat.


































          
Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik. 1983. ”Sebuah Pengantar”, dalam Taufik Abdullah, Manusia Dalam Kemelut Sejarah. Jakarta: LP3S.

Abdullah, Taufik. 1984. “Studi tentang Minangkabau”, dalam Ahmad Ibrahim (ed.). Minangkabau Minangrantau. Medan: Penerbit Madju.

Adli, Adrial. 1994. “Perdagangan Hasil Bumi Sumatera Barat di Kota Padang Pada Masa Kolonial (1900-1930)”. Tesis. Yogyakarta: PPS Universitas Gadjah Mada.

Dobbin, Christine. 2008. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau 1784 – 1847. Depok: Komunitas Bambu.

Dobbin. Christine. 1992. Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah. Jakarta: INIS.

Kato, Tsuyoshi. 1986. “Rantau Pariaman: Dunia Saudagar Pesisir Minangkabau Abad XIX” dalam Akira Nagzumi. Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang. Jakarta Yayasan Obor Indonesia.

Manan, Imran. 1989. “Enterpreneurship dan Corak Ekonomi Minangkabau dalam Dunia Usaha”. Makalah. Bandung: Unit Pencinta Budaya Minangkabau Universitas Padjadjaran.

Mansur, M.D. 1972. Sejarah Minangkabau. Jakarta: Bhratara

Naim, Mochtar. 1987. Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Navis, A.A. 1984. “Pola Usaha Tradisional Minangkabau dan Bisnis Modern” dalam Majalah Interaksi No. 4 Th. I.

Navis, A.A. 1986. Alam Terkembang Jadi Guru. Jakarta: Grafiti Press. 1986.

Yusuf, Mohammad. 1998. “Haji Mohammad Said (1930-1990) Kisah Seorang Pedagang Minangkabau”. Skripsi. Padang: Fak. Sastra Universitas Andalas




PENINGKATAN PENDUDUK SUMBAR TAK TERBENDUNG: Perbandingan Kuantitas dan Kualitas Penduduk Minang



Oleh
Ari Febrianto


            Bicara mengenai Sumatera Barat tidak bisa lepas dari wilayah  Minangkabau, karena mayoritas masyarakat yang menetap di Sumbar adalah orang-orang Minang. Minangkabau memiliki kultur dan konsep tersendiri mengenai keluarga dan kekerabatan. Minang menggabungkan antara konsep Islam dengan adat Minang sendiri.
            Secara umum orang Minang memakai sistem kekerabatan matrilineal (garis keturunan ibu), sampai sekarang masih bertahan dan berlaku bagi orang Minang, hal ini mempengaruhi kehidupan masyarakatnya, terutama pada Pembagian harta pusaka dan kehidupan keluarga di Minangkabau.

Keluarga di Minangkabau
Keluarga di Minangkabau adalah hubungan yang terjalin antara seorang laki-laki dan perempuan yang terikat dalam sebuah pernikahan (syah menurut Islam, adat , dan hukum). keluarga di Minangkabau sangat ditentukan oleh struktur, fungsi, tipe, dan pola tempat tinggal yang dianut dalam satu keluarga. Bentuk-bentuk hubungan yang terdapat dalam keluarga dapat dibedakan antara  pola hubungan yang terjadi dalam keluarga inti (batih) dan pola hubungan yang terjadi dalam keluarga luas. Hubungan tersebut ada yang berbentuk horizontal dan ada pula yang berbentuk vertikal.
Menurut pola ideal, setelah menikah seorang laki-laki di Minangkabau akan menetap di lingkungan keluarga istri yang disebut dengan pola “matrilokal”. Dalam pola aktual sekarang ini tidak semua keluarga di Minangkabau bertempat tinggal di lingkungan keluarga istri, tetapi banyak pula yang bertempat tinggal di lingkungan keluarga suami yang disebut “patrilokal”, atau di tempat baru yang bukan lingkungan keluarga istri maupun keluarga suami yang disebut “neolokal”.
Sebaliknya, seorang suami selama berada dalam lingkungan rumah gadang, di samping sebagai tamu (abu di ateh tungku) dia juga harus menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku. Apalagi kalau di rumah tersebut ada beberapa keluarga. Tingkah laku dalam rumah gadang ini harus dijaganya dengan baik, agar tidak menyinggung perasaan mertua, ipar, dan saudara-saudara istrinya. Rumah gadang juga sering dikunjungi oleh sanak saudara istri dan mertuanya, yang membawa hubungan yang penuh aturan, baik dalam berbicara, berbuat dan bertindak. Tata krama yang demikian menyebabkan seorang suami bertambah kikuk dalam pergaulan suami istri.
Suasana hubungan dalam rumah gadang inilah yang sesungguhnya menyebabkan seorang suami tidak betah di rumah. Oleh karena itu, pada pagi hari ia pergi dan baru pulang pada malam hari ke rumah istrinya. Di samping itu tidak jelasnya pekerjaan dan tanggung jawab yang akan dipikulnya sepanjang adat atau tradisi yang berlaku. Akibatnya merembet lebih dalam kepada hubungan suami istri dari setiap anak dan menantu yang seharusnya tidak terjadi. Seringkali hal yang demikian berakhir dengan perceraian.
Dalam perkembangannya hubungan suami istri dalam keluarga batih berbeda dengan keluarga luas. Keluarga batih terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang belum kawin. Pada umumnya keluarga batih ini sudah menempati rumah sendiri yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah gadang. Kepindahan mereka dari rumah gadang biasanya disebabkan oleh karena rumah gadang sudah sempit atau karena ingin hidup mandiri lepas dari mertua. Penyebab lainnya bisa juga karena perbedaan pendapat yang berkisar di sekitar pembagian pemakaian harta pusaka ataupun perlakuan mertua terhadap menantu dan anak-anaknya.
Sebuah keluarga batih yang menempati rumah sendiri, mereka tidak dapat berbuat semaunya seperti keluarga batih yang tinggal di luar komunitas asal. Hal ini disebabkan karena keluarga batih ini masih terikat dengan norma-norma kaum yang berlaku di bawah pengawasan mamak kepala waris, karena rumah mereka biasanya terletak di atas tanah suku atau kaum pihak perempuan. Meskipun demikian, pola hubungan suami istri di rumah tersebut sudah jauh berbeda dengan pola hubungan yang berlaku di rumah gadang. Di sini sudah terdapat kelonggaran disiplin yang dapat membawa hubungan suami istri ke arah yang lebih baik dalam demokratis, secara bertahap juga sudah terjadi pergeseran-pergeseran tanggung jawab. Seorang suami yang sebelumnya tidak tahu menahu dengan kebutuhan keluarganya, sekarang sudah harus mengusahakan dan mencukupinya. Sejalan dengan itu, perhatian, tenaga, dan waktunya sudah banyak dicurahkan untuk memenuhi kebutuhan rumahtangganya, yang menyebabkan berkurangnya waktu dan perhatiannya terhadap rumah ibu dan kemenakannya. Oleh karena itu, boleh dikatakan hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk istri dan anak-anaknya.

Prinsip Dasar Keluarga Minangkabau
Sebagian besar keluarga Minangkabau  masih memakai prinsip “banyak anak banyak rezeki”, sehingga akibatnya tidak ada pengaturan dan pembatasan yang dilakukan, setiap anak yang lahir adalah rahmat dan anugerah dari Tuhan. Prinsip seperti ini ternyata masih berlaku bagi sebagian masyarakat Sumbar.
Dalam hal ini pemerintah sebenarnya telah mengatur dan membatasi jumlah anggota keluarga dalam mengatasi jumlah penduduk yang terus meningkat dengan sifnifikan dari tahun ke tahun, dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Dalam merealisasikannya di berikan pemahaman atau  pengetahuan kepada masyarakat mengenai program Keluarga Berencana (KB) yang bertujuan untuk mencapai keluarga yang bahagia, dan sukses.
Namun, realitanya dilapangan tidak semua masyarakat Sumbar dapat menerima program ini dengan baik, hal ini dipengaruhi oleh konsep Islam yang dianut masyarakat, selama ini masyarakat masih menganggap bahwa KB merupakan perbuatan yang melanggar ajaran agama, dengan membatasi keturunan dianggap sudah memutus rahmat dan karunia Allah.
Tingkat perekonomian juga berpengaruh terhadap tingginya pertumbuhan penduduk di Sumbar, sebagian besar masyarakat masih berada dibawah garis kemiskinan, berdasarkan data sensus penduduk, setiap tahun jumlah penduduk bertambah dan jumlah orang miskin ikut melonjak tajam. Sebagian besar mereka hanya tamatan SD, SLTP, dan yang paling tinggi SLTA, pengetahuan mengenai KB tidak mereka dapatkan dan mayoritas mereka juga tidak ingin tahu, karena mereka disibukkan dengan bekerja pagi dan pulang pada sore harinya, hanya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari (ndak bakarajo ndak buasok dapua).
Pendidikan juga termasuk salah satu faktor peningkatan jumlah penduduk di suatu daerah, sebagian besar masyarakat yang menetap di daerah-daerah Perkotaan dan pusat-pusat keramaian akan lebih cenderung memiliki pengetahuan dengan mendapatkan pendidikan lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat yang berada didaerah-daerah pedalaman yang jauh dari pusat kota, pendidikannya akan lebih rendah. Sehingga hasilnya masyarakat Perkotaan akan cenderung lebih terbuka dan berifikir kemasa depan, jumlah keturunan akan disesuaikan dengan pendapatan dan idealnya cukup dengan 2 (dua) anak akan lebih terjamin kehidupan masa depannya. Sebaliknya bagi masyarakat yang berada di daerah pedalaman tidak terlalu memikirkan masa depan anak-anaknya, mereka hanya berfikir dengan mewariskan lahan yang mereka kelola (garap) sekarang anak-anak mereka akan masih bisa bertahan hidup.
Pemerintah dengan program KB (Keluarga Berencana) telah berusaha memberikan penyuluhan pengetahuan mengenai tujuan dan manfaat penggunaan KB bagi masyarakat. Namun, kenyataannya masyarakat Sumbar masih belum sepenuhnya dapat memahami dan mengerti, telinga mereka masih asing dengan kata KB, terutama masyarakat yang berada di daerah-daerah pedalaman, sebagian besar orang Minang menetap di daerah pedesaan (terpencil) yang hidup dari lahan pertanian (agraris).  Hal ini menjadi salah satu faktor kenapa peningkatan penduduk di Sumbar masih belum dapat terkendali dengan baik.
Program KB yang dicanangkan oleh pemerintah sebenarnya tidak menentang ajaran Islam, menurut Islam umat yang banyak secara kuantitas belum tentu memberi jaminan kualitas. Bahkan Allah SWT mengingatkan dalam Alquran, umat yang jumlahnya sedikit bisa mengalihkan umat yang banyak dengan izin Allah. Cukup banyak ayat Alquran dan Hadits Nabi  yang memberi penekanan dan isyarat bahwa umat Islam harus menjadi khaira ummah, umat yang terbaik dan memiliki keunggulan (Menteri Agama RI. Muhammad M. Basyuni. 2007).
Dengan demikian dalam era globalisasi sekarang, daya kompetisi yang semakin tinggi diharapkan dapat menghasilkan Generasi-generasi muda yang berkualitas, tentu dengan program KB diharapkan dapat Mewujudkan apa yang kita harapkan bersama, mencapai negara sukses yang penduduknya tidak  besar secara kuantitas tetapi sangat bagus dalam kualitasnya, sehingga mampu bersaing dengan negara-negara maju






























Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik. 1983. ”Sebuah Pengantar”, dalam Taufik Abdullah, Manusia Dalam Kemelut Sejarah. Jakarta: LP3S.

Abdullah, Taufik. 1984. “Studi tentang Minangkabau”, dalam Ahmad Ibrahim (ed.). Minangkabau Minangrantau. Medan: Penerbit Madju.

Dobbin, Christine. 2008. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau 1784 – 1847. Depok: Komunitas Bambu.

Mansur, M.D. 1972. Sejarah Minangkabau. Jakarta: Bhratara

Membangun Keluarga Sehat dan Sakinah. Jakarta: BKKBN bekerjasama dengan DEPAG RI, NU, MUI, dan DMI. 2009.

Navis, A.A. 1986. Alam Terkembang Jadi Guru. Jakarta: Grafiti Press. 1986.

Serial tanya jawab: Keluarga Sejahtera & Kesehatan Reproduksi, dalam pandangan Islam. Jakarta: Badan Advokasi dan KIE. 2008.




















DISPARITAS PENGETAHUAN



Oleh:
Ari Febrianto, Mahasiswa Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas

            Ketertinggalan Indonesia di bidang pendidikan dari negara-negara maju mungkin sudah bisa dimaklumi. Bahkan, kemajuan pendidikan di negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand di berbagai bidang sudah menjadi rahasia umum di Indonesia.
Cerita-cerita seperti ini selama ini seakan sebagai pengetahuan umum belaka di negara kita, khususnya di kalangan insan pendidikan. Tapi saat penulis bersama puluhan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Andalas melakukan studi banding dalam rangka pertukaran mahasiswa Unand dan Universiti Malaya, beberapa waktu lalu, cerita itu benar adanya.
UM sendiri sebagai universitas nomor satu di Malaysia memang membuktikan diri sebagai salah satu “pusat keunggulan” (center of excellent) Malaysia. UM memiliki berbagai fasilitas dan kemudahan akses seperti transportasi yang begitu nyaman, ruangan kuliah yang dingin, dan pustakanya yang sangat bagus baik dalam bidang pelayanan maupun  kuantitas buku koleksinya.
Malaysia yang konon kabarnya pada tahun 70-an belajar ke Indonesia, Sumatera Barat khususnya, tapi sekarang mereka berlari dengan sangat cepat, karena mereka didukung dengan fasilitas dan prasarana yang memadai, terutama dalam pengelolaan pustaka.  Tidak heran apabila dikatakan bahwa pustaka adalah jantungnya sebuah universitas.
Memang sangat tidak seimbang apabila mencoba membandingkan antara Univerisiti Malaya dengan Universitas Andalas, bahkan dengan beberapa Universitas lain di Indonesia. Tapi ini hanya sekedar motivasi agar Universitas Andalas yang notabennya ingin menjadi Universitas terkemuka dan bermartabat (World Class University) dapat terealisasi, mungkin beberapa tahun yang akan datang, dan slogan seperti itu  tidak hanya sekedar pembohongan dan citra pemimpin universitas.
            Universiti Malaya menjadi Universitas nomor satu di Malaysia tidak terlepas dari berbagai aspek pendukungnya seperti dalam bidang akses transportasi yang begitu nyaman dan merasa sangat jauh dari sesak dan keributan, di Universitas Andalas untuk sampai kekampusnya saja memerlukan perjuangan yang begitu besar dengan harus mengucurkan keringat, bagaimana tidak kalau untuk menunggu bus saja memerlukan waktu yang lama (diwaktu-waktu tertentu) dan ditambah lagi harus berdesak-desakkan ketika menaikinya.
            Fasilitas yang sangat mendukung lainnya adalah ruangan kuliah yang dingin, suasana yang tentram dan terhindar dari suara-suara dari luar, baik itu suara mahasiswa atau bising kendaraan, karena ruangannya didesain kedap suara dan penempatan kursi yang baik, dibagian depan posisi dosen sangat terlihat jelas dan untuk alat bantu di sediakan alat pengeras suara dan LCD digantung diatas loteng, sehingga pelaksanaan kuliah berlangsung dengan sangat  baik. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kampus hijau Univerisitas Andalas, ruangan kuliah yang hanya dilengkapi oleh pendingin alami, kalau harus melakukan proses perkuliahan dengan menggunakan LCD, mahasiswa harus meminjam dulu ke tempat peminjaman yang telah disediakan, hal yang paling menganggu adalah ruangan kuliah yang tidak kedap suara dengan jendela yang terbuka dan ventilasi udara juga banyak, sehingga suara-suara mahasiswa dan suara kendaraan yang berada diluar lebih terdengar jelas dibandingkan dengan suara dosennya sendiri.
            Fasilitas yang paling mendukung dalam sebuah universitas adalah pelayanan dan kuantitas buku koleksinya. Sudah menjadi rahasia umum dan semua orang pasti akan berpendapat sama, bahwa pustaka adalah jantungnya universitas dan lumbungnya pengetahuan.
            Pustaka di Universiti Malaya memiliki beberapa kelebihan baik dari segi pegawai, jam kunjungan, maupun dari segi koleksi, ditingkat Jurusan memiliki satu pustaka dengan pelayanan dan kuantitas buku cukup banyak yang berkaitan dengan  jurusan masing-masing dan sebagian besar buku-buku yang ada di pustaka jurusan adalah karya dan hasil penelitian dari setiap dosennya, setiap penelitian dosen harus dipublikasikan dan akan dibiayai untuk Pembuatan bukunya dan buku yang dihasilkan akan diletakkan di pustaka jurusan dan dapat digunakan sebagai panduan bagi setiap mahasiswa di jurusan. setiap mahasiswa boleh membaca dan melakukan diskusi, pertemuan, dan seminar kecil di ruang pustaka, karena di Pustaka Jurusannya memang disediakan fasilitas yang cukup memadai untuk melaksanakan kegiatan tersebut seperti Komputer, LCD, Layar Putih, Scanner dan tempat duduk yang melingkar seperti meja  sidang DPR dengan berbagai fasilitas lain yang mendukung seperti pendingin ruangan, sehingga kegiatan yang diadakan di ruang pustaka menjadi sangat nyaman dan berjalan lancar. Setiap mahasiswa yang ingin membaca akan betah duduk berlama-lama untuk membaca dan berdiskusi baik masalah kuliah maupun masalah Pembuatan skripsi dan disertasi. Untuk mahasiswa S2 mereka cukup duduk dan membaca diruang pustaka jurusan setiap hari untuk menyelesaikan disertasinya, dan kalau membutuhkan buku tambahan tinggal mencarinya di pustaka Univeristas.
Sebagai fasilitas tambahan disetiap jurusan disediakan satu ruangan nyaman untuk melakukan browsing internet secara bebas dan gratis dan itu dikelola oleh mahasiswa S2, setiap mahasiswa boleh menggunakannya tidak terkecuali mahasiswa S1 dan koneksinyapun  lumayan cepat dan praktis.
            Mahasiswa yang telah belajar dikelas dan mendapatkan pengetahuan hanya sebagian kecil ilmu yang ditransfer dari dosen untuk menyempurnakan yang sedikit itu mereka menambahnya  dengan membaca berbagai referensi yang berkaitan di pustaka jurusan maupun di pustaka universitas. Pustaka Universitas memiliki gedung yang lebih besar dengan empat lantai dan disetiap tingkatan lantai pasti dipenuhi dengan deretan dan jajaran buku-buku yang siap menanti untuk dibaca dan jumlahnya sangat banyaknya dan dilengkapi dengan sistem pencarian dengan sistem komputerisasi yang memudahkan, cukup dengan memasukkan kode/nama buku yang kita cari misalnya kita mau mencari buku-buku yang berkaitan dengan Sejarah Malaysia, dengan mengetikkan Sejarah Malaysia saja, maka akan muncul judul-judul buku yang berkaitan dengan  Sejarah Malaysia sesuai dengan koleksi yang ada dan langsung  menunjukkan kode dan posisi bukunya. Sehingga sangat memudahkan dalam pencarian dan setiap mahasiswa boleh meminjam buku sebanyak yang dibutuhkan dan boleh mengembalikannya apabila tidak memakainya lagi atau paling lama satu semester. Mereka juga memiliki satu pustaka tambahan yang berada diluar lingkungan kampus, apabila mencari buku yang tidak tersedia di pustaka pusat maka akan langsung diberi informasi bahwa buku yang dicari tersedia di pustaka yang lain.
            Selama berada dilingkungan kampus dan didalam ruangan pustaka sangat dilarang keras merokok dan membuat keributan, setiap tingkat disediakan tempat untuk membaca, tempat untuk melakukan browsing internet dengan gratis, dan ada satu ruangan yang dipisahkan dengan cermin putih dan di dalamnya ada mahasiswa-mahasiswa S2 sedang mencari dan membaca dan di dalamnya sama sekali tidak boleh bersuara karena tempat itu memang disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa yang serius dalam belajar, tidak ketinggalan tempat untuk melakukan diskusi juga disediakan. Mahasiswa yang masuk kepustaka univeristas harus meninggalkan semua barang bawaannya di tempat yang telah disediakan dilantai dasar dan apabila membawa laptop akan diperbolehkan membawanya. Dengan demikian mahasiswa yang berada didalam pustaka akan lupa waktu, penulis pernah bertanya kepada salah seorang teman, sekitar jam sepuluh malam, dari mana? saya study di library” penulis berfikir sudah selarut ini pustakanya masih buka dan mahasiswanya masih sibuk membaca dan membaca, tidak aneh rasanya jika mereka lebih memiliki pengetahuan dan pemahaman yang lebih maju. Penulis membayangkan bagaimana seandainya di Universitas Andalas juga seperti ini. Mungkin lima tahun atau beberapa tahun kedepan bisa menyamai mereka atau paling tidak mengurangi jarak ketertinggalan kita.
            Jika dibandingkan dengan Universitas Andalas ketersediaan dan kuantitas buku yang tersedia di pustaka sekarang bisa dikatakan hanya sebagian kecil, sebagian besar adalah buku-buku yang kurang bermanfaat bagi mahasiswa karena hanya berupa buku-buku proyek. Hal itu diperparah dengan tidak bolehnya mahasiswa meminjam lebih dari tiga judul buku dan harus mengembalikannya seminggu dari tanggal peminjaman, karena memang jumlah buku yang ada tidak mencukupi dan sangat kekurangan jika dibandingkan  dengan jumlah mahasiswa yang memerlukannya dan sebagian besar buku-buku yang tersedia adalah buku-buku lama. Untuk mengatasi masalah ini tentu saja diharapkan kerja keras dari pihak universitas untuk memantau dan selalu mencari buku-buku bagus yang beredar dan tentu harus menempatkan orang-orang yang berkompeten dalam hal ini. Dengan begitu universitas dapat membeli buku dengan jumlah yang disesuaikan dengan jumlah mahasiswa yang membutuhkannya untuk satu judul buku, yang selama ini memang hal itu menjadi masalah mendasar bagi mahasiswa yang membutuhkan. Untuk satu judul buku sekitar lima puluh orang Sedangkan buku yang tersedia hanya sepuluh buku untuk satu judul buku.
            Pustaka Fakultas dan pustaka Jurusan tidak jauh berbeda, mengalami masalah yang sama yaitu kelangkaan buku dan kurangnya penambahan buku-buku baru menyebabkan pengetahuan  mahasiswanya lebih tidak melihat bagaimana perkembangan terbaru dari ilmu pengetahuan. Pelayanan yang tidak baik dan jam kunjungan pustaka yang hanya sampai jam empat sore, serta tata letak buku juga menjadi kekurangan untuk mencari satu judul buku saja mahasiswa  harus menghabiskan waktu satu hingga dua jam karena harus mencari secara manual dan harus membalik-balik satu persatu buku yang berserakan di rak-rak lemari, sudah tahu demikian kondisinya mahasiswa juga kurang perhatian dan tidak meletakkan buku ditempatnya setelah membaca sehingga untuk mencari buku yang sama besoknya  membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
             “Membaca adalah budayanya manusia, manusia tidak akan punya peradaban apabila tidak membaca. Bahkan Islam pun mengajarkan kata pertamanya yaitu “Iqra” (bacalah). Bagaimana cara untuk menjadi manusia yang cerdas secara peradaban apabila tidak membaca dan bagaimana cara membaca apabila buku untuk dibaca itu sendiri yang tidak ada. Dan akhirnya masih berjalan ditempat dan mimpi untuk menjadi yang terbaik hanya tinggal kenangan yang tertinggal di ujung mimpi yang kelam.
Sangat abtraksi jadinya,  jika Unand menginginkan menjadi Universitas terkemuka dan bermartabat jika hal itu tidak diikuti dengan realita dan kinerja yang optimal, slogan itu hanya akan menjadi sebuah ajang politik dan citra pemimpin universitas, dapat disamakan dengan para anggota DPR yang hanya membuat kepentingan politik yang bobrok.

JANGAN AJARI DIRI UNTUK KORUPSI



Oleh: Wahyu Suri Yani
Korupsi  hal yang paling dibenci  oleh siapapun termasuk pelakunya sendiri, Benarkan para koruptor sekalian?  Sering orang-orang yang ada disekitar kita berkata “aku suci dari korupsi” tapi kita lihat yang sebenarnya.
Sejak  kecil kita sudah diajarkan  dalam melakukan sesuatu dengan jujur. Dan kita ketika dilahirkan kedunia benar-benar  putih bersih ke dunia tanpa noda apapun, ketika  belajar di sekolah, MDA, surau, dan organisasi juga di media-media apa pun bagaimana dampak korupsi itu bagi diri sendiri apalagi bagi orang lain.
Tapi kita lihat kenyataan dalam kehidupan sehari-hari tenyata kita telah mengawali dan mengajari  diri sendiri  melakukan korupsi itu sendiri. Ingatkah oleh kita ketika   di antara kita sebenarnya ada yang belum mencukupi umur kita untuk sekolah tapi karena sudah ingin sekolah atau karena sudah dianggap terlalu pintar maka di AKTE kelahiran di ubahlah tahun kelahiran,
Ketika kita disekolah kenapa masih sering terlambat, ketika minta uang keorangtua dikatakan untuk beli ini itu dan sebagainya. Bukankah itu sudah korupsi kecil–kecilan yang sudah kita lakukan. Korupsi yang kecil–kecil itulah yang akan menjadi bibit  korupsi besar, apalagi  semenjak kecil kita sudah mengawal dengan hal hal yang sudah besar seperti  mencuri uang dari saku ayah, mengambil jatah lebih dari kakak adik maupun teman kita ketika ada pembagian jatah makanan atau yang lainnya.
Seorang pendidik begitu juga ,seperti halnya guru maupun dosen, oran-orang itulah yang mendidik seorang peserta didik mau jadi apa dia nanti, tapi banyak  kenyataan para pendidik tersebut sering terlambat mengajar sedangkan murid–murid telah lama menunggu kedatangannya untuk belajar dan ada juga guru lebih mementingkan hal lain dan biasa saja untuk tidak hadir pergi mengajar dan bila memarahi murid  bersalah dengan enaknya berkata “ kami tidak rugi bila kalian tidak hadir gaji akan tetap dibayar oleh pemerintah “.
Apakah sang guru itu tidak menyadari diatelah mengajarkan bagaimana cara berkorupsi kepada muridnya, sedangkan dia tiap hari berkoar–koar bagaimana bejatnya orang–orang atas sana yang korupsi sehingga nasib rakyat tidak diperhatikan dan membuat rakyat menderita, kelaparan dan kemiskinan merajalela. Kita harus kembali pada konsep bagaiman guru tersebut bahawa guru bukan sekedar pengajar saja tapi juga sebagai pendidik.
Dan gaji yang diterima oleh guru tadi dimakan oleh anaknya, sedangkan didalamnya ada hak orang lain yang termakan dan itu sudah menambah investasi untuk melahirkan para koruptor – koruptor dunia.
Contoh yang lain yang kita sendiri mengajari diri kita korupsi,dalam hal mentaati peraturan, ketika pergi kemanapun dengan motor semua warga  wajip pakai helm dan membawa SIM serta surat surat kelengkapan lainnya tapi karena kita ingin menjadi pelanggar dengan mudah melanggar yang demikian dan rambu rambu lalu lintas diacuhkan begitu saja, ketika ketahuan oleh polisi lalu lintas, supaya tidak dibawa kemeja hukum menyelipkan uang ketangan Polisi tersebut Polisi begitu pula pekerjaannya yang untuk menegakkan supaya tegaknya keadilan tapi dengan mudah menerima hal yang demikian. Lalu siapa lagi yang akan menegakkan kebenaran ketika semua orang sudah menginvestasikan lahirnya calon-calon korupsi.
Berarti hampir semua orang telah menyumbang untuk  melahirkan bibit korupsi, seelumnya kita lihat latar belakang orang orang yang korupsi didunia  ,pastilah mereka orang - orang yang berpendidikan tinggi tentu kita bertanya – Tanya mengapa orang yang terbelajar mau melakukan perbuatan yang menyengsarakan jutaan orang dinegara yang kaya ini.
Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam dan sumber daya manusianya tanahnya begitu subur bisa ditanam apa saja dan apalagi isi buminya yang kaya dengan bahan tambang yang tidak ada di Negara lain,  tapi kenapa tergolong kepada  Negara miskin di dunia yang rakyatnya banyak yang hidupnya tidak layak.
Korupsi itulah salah satu hal yang melatar belakanginya. Sekarang di indonesi sangat disibukkan oleh hal masalah korupsi yang berkepanjangan oleh para pejabat dizaman orde baru  yang entah sampai kapan akan bisa dilunasi.Apalagi saat sakarang ditambah dengan lahirnya para koruptor koruptor baru dengan metode lain yang mencoba untuk membalikkan fakta dalam  berbagai cara dilakukan  agar apa yang mereka lakukan tidak diakua kebenarannya.
Untuk menyelesaikan permasalahan korupsi yang berkepanjangan, maka diadakanlah suatu lembaga  untuk memberantas masalah yang berkepanjangan tersebut, tetapi apa kenyataanya, bukan bertambah kurang korupsi ang ada tapi dijadikan sebagai ajang korupsi besar besaran.
Indonesia yang tergolong Negara sepuluh besar terkorupsi di dunia telah melakukan berbagai hal agar korupsi ini bisa dihapuskan agar nasib Indonesia berubah kearah yang lebih baik dengan dikeluarkannya TAP MPR VII 2001 yang isinya menciptakan masyarakat Indonesia yang : Religius, Manusiawi, Bersatu, Demokratis, Adil, Sejahtera, Maju, Mandiri, Good Government.Yang demikian target Indonesia sebelum tahun 2020 tapi apakah akan bisa terwujud yang demikian melihat kenyataan keadaan rakyat indonesai saat ini.
Kita lihat dari kenyataan yang ada belum bisa itu akan tercapai bahkan walau alat alat yang di pakai sudah modern tapi keadaan moril dan kemakmuran masyarakt jauh dari yang dikehendaki.Apalagi dari segi kemakmuran salah satu yang berperan dari ini adalah Korupsi .
Uang yang dikorupsi tersebut bila dipergunakan dibidang kesehatan maka tidak akan banyak ibu yang melahirkan meninggal karena kurangnya sarana kesehatan dan obat–obatan, tidak kan banyak orang yang bunuh diri karena tidak ada yang akan dimakan nanti oleh anak istrinya,
Tidakkan banyak pengemis yang kata pemerintah mengganggu lalu lintas, tidakkan banyak masyarakat yang tinggal dikolom jembatan yang mengumuhkan pandangan.tidakkan banyak pencopet yang berkeliaran untuk mengobat ibunya yang sudah berbulan bulan sakit belum juga dibawa karena tidak ada uang.
Jadi kita yang generasi muda yang sekarang sedang mengamati tindakan pemerintah dalam menjalankan tugasnya sebagai pemerintah, sungguh sangat jauh dari yang diharapkan bahkan hanya untuk memuaskan hawa nafsu dan berupaya mengeruk kekayaan dunia demi kepuasan hawa nafsu. Berupayalah untuk memulai dari diri sendiri untuk jangan memulai korupsi walaupun itu hal kecil dan biasa karena korupsi itu dimulai dari hal yang kecil dan biasa dan berlanjut kepada hal hal yang lebih besar.  Apalagi kitalah yang akan melanjutkan tongkat estafet kemajuan Indonesia sendiri.
Dan kita harus bertekad untuk mengubah itu semua dan mulai dari diri sendiri menjadi pembrantas korupsi yang sangat merugikan siapapun. Konsep untuk tidak melakukan korupsi telah ada  semenjak kita lahir dan itu anugrah yang diberikan oleh sang pencipta baik dia itu islam, nasrani yahudi dan yang lainnya tapi ketika mnusia baru berumur Sembilan puluh hari, allah telah menganugrahkan kepada kita.
Penggunaan anugrah allah itu tergantung kepada kita yang memilkinya lagi, dan kita harus mengingat ada sepotong daging dalam tubuh kita yang berfungsi sebagai penyeimbangnya, gunakanlah hati dalam bertindak jangan otak saja, dan jagalah hatimu karena bila hati  sudah tidak terjaga lebih dari korupsi akan bisa dilakukan manusai.
Penulis adalah mahasiswa Universitas Andalas Jurusan Ilmu Sejarah BP 1010712016

Muslim Yang Tidak Aktif ; Air Tenang Yang Mudah Tercemar



 Apa yang terjadi jika seseorang duduk di depan televisi hampir sehari penuh? Tidak melakukan atau berkegiatan selain hanya menonton tayangan – tayangan televisi yang sudah krisis manfaat? Dari segi kesehatan saja, kita tentu tahu tak baik apabila terlalu lama di depan layar kaca yang mampu ‘menyemprotkan’ radiasi dengan ‘sangar’ tersebut.  Apalagi sebagai seorang muslim kita dituntut untuk mampu menjadi seorang ‘manager’ yang mampu me-manage waktu agar tidak lewat begitu saja. Karenanya, dalam buku Bagaimana Menyentuh Hati, Abbas As Siisiy menuturkan bahwa seorang pemuda dan pemudi Islam harus disibukkan dengan hal – hal yang bermanfaat, agar dapat membangun optimisme jiwanya, mengisi kekosongan perasaannya, dan memuaskan kesenangannya, seperti berolahraga. Kegiatan tersebut  juga dilakukan agar dapat mengokohkan ikatan keluarga dan sosial.
Kawan, tentu kau pernah mendengar ungkapan Time is Money. Yups, ungkapan ini sudah sangat terkenal dan tidak asing lagi di telinga kita. Akan tetapi, ungkapan tersebut sepertinya hanya menjadi ungkapan kosong karena kita cenderung suka mengabaikan waktu. Berikut beberapa kegiatan yang dapat kita lakukan untuk mengisi waktu ( luang ) :
·         Silaturrahim
Menjaga hubungan baik tentu menjadi suatu keharusan bagi setiap muslim. Selain memudahkan rezeki, menjaga silaturrahim juga dapat memperpanjang umur. Kita bisa mengunjungi saudara, teman, atau mungkin pemuka – pemuka masyarakat. Hal ini tentu dapat menambah daftar panjang saudara kita yang tersebar di berbagai tempat.
·         Mengunjungi Pameran -  Pameran Buku
Begitu banyak manfaat yang kita dapat apabila mengunjungi pameran – pameran buku. Mulai dari mendapat buku dengan harga murah karena biasanya ada diskon besar – besaran sampai bertemu dengan banyak orang, nah, hal ini menjadi bagian dari silaturrahim juga, bukan?
·         Perlombaan Ilmiah
Jika Kawan berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa, tentu tak  asing lagi dengan istilah di atas. Biasanya, di beberapa sekolah atau kampus – kampus sering mengadakan perlombaan ilmiah dengan banyak kategori dan ragam hadiah. Misalnya, Lomba Sains, seperti olimpiade Fisika, Matematika, Biologi dan sebagainya. Jika Kawan  kurang menyukai dunia sains, tak ada salahnya, Kawan mencoba cara yang satu ini. Lomba Karya Tulis, seperti cerpen, puisi dan novel, baik fiksi atau nonfiksi. Karya tulis memang identik dengan kreativitas, hal ini tentu akan memicu otak untuk ‘bekerja’ sesuai dengan fungsinya. Satu hal yang pasti, menulis sangat menyenangkan.
·         Aktif berkegiatan di Masjid
Sebagai seorang pemuda dan pemudi Islam, kita harus mampu mempunyai program yang dinamis agar dapat mengembangkan daya nalar dan wawasan baru. Aktif di Masjid meliputi beberapa kegiatan, seperti latihan berceramah dan khotbah Jum’at bagai para pria, intens mengadakan kegiatan untuk remaja Masjid atau mungkin menjadi penggagas suatu acara dimana anda bertugas menjadi ketua panitianya. Hal tersebut tentu lebih baik dibanding dengan nongkrong – nongkrong di cafĂ© atau mejeng di mall hanya untuk ‘cuci mata’
Tentu masih banyak lagi kegiatan – kegiatan positif yang dapat dilakukan oleh seorang muslim yang berkewajiban untuk selalu mengisi kekosongan akal dan ruhnya. Kegiatan positif juga harus dilakukan secara berketerusan, agar efek positifnya selalu dapat dirasakan, terlebih agar hati tak gampang tergoda untuk bermalas – malasan dan berdiam diri.
Air Yang Tersumbat
            Pernahkah Kawan melihat air di selokan yang tersumbat karena sampah yang menumpuk? atau Water Close yang mampet? Nah, apa yang terjadi setelahnya? Betul sekali, tercemar. Apabila selokan tersumbat oleh sampah yang menumpuk, dapat dipastikan air di selokan tersebut akan berubah warna dan dampak lainnya  akan terjadi banjir karena sanitasi yang buruk.
            Lalu, bagaimana kalau hal tersebut terjadi pada generasi muda Islam yang menjadi tonggak peradaban? Permasalahan yang sama tapi tak serupa. Pembiaran diri dalam rutinitas yang cenderung tidak bermanfaat, ibarat sampah yang menumpuk di selokan. Tidak dapat dipungkiri, generasi Islam telah dicekoki pengaruh westernisasi. Otak yang dianugerahi oleh Allah SWT hanya digunakan untuk memikirkan tren fashion yang berkembang pesat, atau cara – cara menggaet ‘konglomerat junior’. Kawan, kalau untuk hal – hal sepele seperti itu kita bisa berlama – lama, mengapa tak coba Lomba Ngebanyakin Amal Baik, hadiahnya bisa di ambil di dunia dan akhirat. Nah, lomba ini sudah dimulai sejak lama dan masih akan berlangsung sampai ajal menjemput.
            “ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati , semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya.” ( al- Israa’: 36 )
            Itu sebabnya, kita selaku muslim harus selalu aktif memanfaatkan apa – apa yang telah Allah SWT berikan dengan selalu berada di jalan-Nya. Lalu bagaimana caranya menjadi muslim aktif di tempat yang berbeda?
·         Sekolah / kampus
Lingkungan ini menjadi batu loncatan buat kamu menjadi muslim yang aktif. Kalau sekolah atau kampusmu mengadakan suatu kegiatan, ikutlah menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Belajar berorganisasi juga bisa dimulai dari bangku sekolah atau kuliah. Misalnya, menjadi anggota OSIS, pramuka  atau ekstrakurikuler lainnya. Jangan hanya jadi penonton yang bisanya bertepuk tangan akan keberhasilan orang lain, jadilah bagian dari keberhasilan itu.
·         Rumah
Mulai dari ikut membantu orang tua mengerjakan pekerjaan rumah, seperti menyapu rumah, mengepel, cuci piring dan sebagainya. “ Dan salah satu tanda – tanda kiamat adalah banyaknya pembantu yang melahirkan majikannya”. Bukankah menjadi sesuatu yang luar biasa apabila kita dapat berprestasi di dalam dan di luar rumah sekaligus.
·         Komunitas
Sekarang ini komunitas – komunitas seperti jamur dimusim hujan. Banyak jenis dan namanya. Seperti, komunitas pecinta ular, komunitas pecinta motor gede, komunitas anak – anak punk dan banyak lagi. Kegiatan yang dilakukan pun beragam, sesuai dengan visi dan misi mereka ( ciee….) Namun, sebelum memutuskan untuk masuk di sebuah komunitas, terlebih dahulu Kawan harus mengenal apa yang Kawan senangi dan butuhkan, latar belakang dari komunitas yang dituju, orang – orang yang menaunginya serta agenda positif komunitas tersebut. Dengan demikian Kawan akan lebih tenang dan senang berada di dalamnya. Lalu, bagaimana cara menjadi muslim aktif di komunitas?  Tak lain tak bukan, tentu ikut menyemarakan kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas yang Kawan ‘diami’. Jangan menjadi ‘sampah’ yang membuat aliran kegiatan positif di komunitasmu tersumbat. Kawan bisa menyumbangkan ide – ide segar untuk kemajuan komunitas tersebut. Misalnya, Kawan menyukai pelajaran Biologi dan kebetulan ada komunitas yang punya kesukaan yang sama, nah, kamu bisa coba masuk di komunitas itu. Ide untuk terjun ke masyarakat atau membuat terobosan baru dalam ilmu Biologi dapat menjadi salah satu cara menjadi muslim aktif di komunitas.
Pada dasarnya, semua itu tidak akan terwujud dan tidak akan membuahkan hasil kalau tidak didasari oleh niat yang tulus. Keaktifan seorang muslim memang dibutuhkan dimana pun dan kapan pun. Karena potensi yang tersimpan dalam diri seorang Muslim jauh lebih besar dari apa yang sudah dikeluarkannya.
Giva Putri Maryesya – Sastra Indonesia

NYATANYA DEGRADASI MORAL



      Arus kehidupan yang semakin dalam dan membahayakan, membuat kita tidak sempat menyiapkan diri untuk berenang di tengahnya. Tak lagi mengenal usia, status sosial bahkan ekonomi, arus ini terus saja menyeret kita.
   
 Krisis Hiburan Dunia Anak
       Ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam, tepatnya pada tahun 90-an. Di era ini lagu anak-anak seusia saya masih sangat populer. Chikita Meidy, trio kwek-kwek, giovanni, sampai meissy adalah nama-nama artis cilik yang sangat terkenal di kalangan seusianya, tak terkecuali saya.
      Cukup lama perjalanan mereka menghiasi pertelevisian Indonesia. Lagu-lagu khas anak-anak begitu digandrungi di zamannya. Berbagai macam acara seolah berlomba menayangkan hiburan khusus anak-anak.
      Menyenangkan memang mengenang masa kecil. Masa dimana saya (dan kita semua) punya kehidupan dan kebahagiaan yang lepas. Lalu, apa yang kita temui saat ini?. Program televisi seakan enggan, dengan alasan “ udah nggak zamannya”   mereka tak lagi memberikan suguhan berbau hiburan ( khusus untuk anak).
      Coba tanyakan kepada anak-anak usia 5-10 tahun, lagu dan artis mana yang mereka sukai? Kita akan menemukan jawaban yang beragam, dan hampir dapat dipastikan jawaban mereka tidak menyertakan nama-nama artis seusianya. Kenapa? Sungguh pertanyaan yang miris.

 Kawula muda, apa yang kau cari?
      Dugem yuk……?
      Belajar? Ntar aja ya………….
      Hari gini belum pacaran? Basi lo….

      Saya pribadi sangat setuju jika ada pendapat yang menyatakan bahwasanya masa muda adalah masa yang paling indah, masa dimana ( katanya ) kita sedang mencari-cari jati diri. Ada yang mengisi masa pubertas ini dengan hal-hal positif, seperti ikut kegiatan sosial di sekolah / kampus, menghadiri seminar-seminar atau mungkin menjadi peserta di berbagai macam  perlombaan berbau akademis. Subhanallah, semoga apa yang mereka lakukan dapat membawa manfaat baik bagi diri sendiri, keluarga maupun sekolah. Lalu, bagaimana dengan remaja lainnya? Bolos sekolah dengan alasan boring di kelas bahkan tawuran antar sekolah kerap menjadi agenda rutin pelajar di kota-kota besar, walaupun tidak menutup kemungkinan hal ini juga terjadi di daerah pinggiran.
      Mereka lupa akan satu hal, amanah yang dipikul begitu berat. Harapan orang tua, harapan sekolah, harapan negara dan bangsa bertengger di pundaknya. Saat kita mengetahui alasan di balik tawuran tersebut, kadang tak masuk akal. Toleransi terhadap teman, membela nama sekolah atau karena merasa tersinggung saat pelajar dari sekolah lain mengejeknya, sungguh miris. Memang, siapa yang tidak marah jika tempat ia menuntut ilmu direndahkan, saya pun mungkin akan sangat geram jika hal itu saya alami. Tapi bukan berarti cara tawuran dapat menyelesaikan semuanya. Banyak yang dirugikan dan dikorbankan, harta bahkan nyawa bisa jadi taruhannya.
     Jika saya bertanya defenisi pacaran kepada para remaja, tentu akan sangat beragam jawaban yang saya temukan. Pada intinya istilah ini ( baca : pacaran ) sering dipakai dalam menggambarkan kondisi dimana sepasang kawula muda sedang menjalin kedekatan yang lebih dari sekedar teman. Sebagai seorang yang beragama ( muslim ), segala perilaku dan tindak tanduk di muka bumi ini tentu tidak lepas dari “pedomannya” dan saya yakin kita sama-sama tahu tidak ada istilah itu dalam Al Quran. Entah dari sudut mana kita memandang kalau belum punya seseorang itu akan dianggap ketinggalan zaman, kuno dan nggak gaul . Semoga cinta-Nya selalu dilimpahkan pada umat-Nya
     Fashionable begitu populer di telinga kita, atau jika saya tidak salah dalam penulisannya kita juga sering menyebutnya trend berpakaian yang up to date. Wah, kalau membahas hal yang satu ini kita tidak boleh melepaskan “sumbernya”, majalah fashion. Pentingnya penampilan tidak bisa dipungkiri juga merupakan satu diantara banyak hal yang kerap kali jadi perhatian utama khususnya kaum hawa.
    Sulit menggambarkan begitu pentingnya keindahan  penampilan dalam pandangan para wanita. Rasa nyaman, cocok dengan ukuran badan dan indah dilihat merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih busana / pakaian. Satu hal yang ingin saya tanyakan. Pernahkah kita ( baca: wanita muslim) merenung, dan bertanya pada diri sendiri, sebenarnya di dalam Islam bagaimanakah berpakaian yang baik itu? Jika tidak menemukan jawabannya saya beri bocoran : silakan anda buka Al Quran surat Al Ahzab ayat 59.

Yakinlah! anda adalah pemimpin
       Sering kali kita mendengar kata bijak “ setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya”.
       Dari kalimat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa setiap umat di muka bumi ini merupakan pemimpin terutama untuk dirinya sendiri. Apa yang kita lihat, dengar dan lakukan akan dimintai tanggung jawabnya. Mulut, hidung, mata, rambut, sepasang tangan dan kaki bahkan organ terkecil dalam tubuh kita akan bersaksi di depan Yang Punya Hidup, percayalah!
       Kita ambil contoh yang paling dekat, ayah. Pemimpin untuk keluarga, istri dan anak-anaknya. Saya memang tidak begitu memahami bagaimana peran seorang ayah dalam keluarga, tapi yang pasti tentu menjadi kompas dalam menempuh perjalanan bernama hidup terutama untuk keluarganya.
     Identik dengan wibawa yang tinggi, tegas dalam mengambil keputusan, punya senyum termanis dan berdedikasi tinggi terhadap keluarga. Lalu, coba bayangkan bila seandainya sosok seperti di atas berganti menjadi sosok yang justru ditakuti oleh anak-anaknya, tak lagi dihormati oleh istrinya.
     Berbicara tentang moral, memang sering menjurus kepada remaja, tapi hal ini juga berlaku untuk orang-orang yang seharusnya menjadi pemandu dalam arahan yang lebih baik. Kita sudah tidak awam lagi dengan permasalahan remaja yang meruncing pada hal etika dan sopan santun. Menurut buku psikologi yang saya baca, keluarga merupakan faktor utama dalam pembentukan kepribadian.
    Jika seorang anak bertingkah di luar batas kesopanan, kita patut  bertanya ,bagaimana keluarga ( ayah dan ibu ) memberikan pelajaran moral tersebut. Memberi kebebasan pada anak memang tidak ada salahnya apalagi menyangkut hobi dan memilih teman, akan tetapi demi mendapat gelar bonyok gue gaul, para orang tua sering kebablasan.
    Bukan pemandangan yang aneh lagi jika pada sore menjelang malam, kita sering melihat anak cucu adam berlainan jenis asyik duduk berdua-duaan di tempat yang terkesan seperti di khususkan, bahkan tidak jarang demi alasan keamanan tempat tersebut diberi pembatas. Jika yang duduk di sana merupakan sepasang suami istri, saya sendiri pun tidak akan berani memberi komentar lebih jauh, lain halnya apabila mereka baru sebatas……..( bahkan sampai di sini saya tidak berani melanjutkan).
      Apa sudah sebegitu parahnya para orang tua memberi kebebasan pada anak-anaknya?
Apa mereka lupa bahwa Allah melihat malaikat mencatat? Sungguh tidak ada niat dalam diri saya untuk menggurui para orang tua, mungkin sedikit berbagi pemikiran saja, ada baiknya mungkin kita ( para remaja ) dan anda ( para orang tua ) saling memperbaiki kualitas diri.
     Pengikisan etika dan moral para generasi muda semakin nyata wujudnya. Jika sedari muda kita sudah lupa akan pentingnya menjaga diri, bagaimana jikalau nanti kita diberi amanat untuk menjaga titipan Illahi?     
-          Giva Putri Maryesya, Sastra Indonesia   -