Oleh:
Ari Febrianto, Mahasiswa Sejarah Fakultas Sastra Universitas
Andalas
Ketertinggalan Indonesia di bidang pendidikan dari negara-negara maju mungkin sudah bisa
dimaklumi. Bahkan, kemajuan pendidikan di negara-negara tetangga, seperti
Singapura, Malaysia dan Thailand di berbagai bidang sudah menjadi rahasia umum
di Indonesia.
Cerita-cerita seperti ini selama
ini seakan sebagai pengetahuan umum belaka di negara kita, khususnya di kalangan insan
pendidikan. Tapi saat penulis bersama puluhan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Andalas melakukan
studi banding dalam rangka pertukaran
mahasiswa Unand dan Universiti Malaya, beberapa waktu lalu,
cerita itu benar adanya.
UM sendiri sebagai
universitas nomor satu di Malaysia memang membuktikan diri
sebagai salah satu “pusat keunggulan” (center
of excellent) Malaysia. UM memiliki berbagai fasilitas dan kemudahan akses seperti transportasi yang begitu
nyaman, ruangan kuliah yang dingin, dan pustakanya yang sangat bagus baik dalam
bidang pelayanan maupun kuantitas buku
koleksinya.
Malaysia yang konon kabarnya pada tahun 70-an
belajar ke Indonesia, Sumatera Barat khususnya, tapi sekarang mereka berlari dengan
sangat cepat, karena mereka didukung dengan fasilitas dan prasarana yang
memadai, terutama dalam pengelolaan pustaka.
Tidak heran apabila dikatakan bahwa pustaka adalah jantungnya sebuah
universitas.
Memang sangat tidak seimbang apabila mencoba
membandingkan antara Univerisiti Malaya dengan Universitas Andalas, bahkan
dengan beberapa Universitas lain di Indonesia. Tapi ini hanya sekedar motivasi
agar Universitas Andalas yang notabennya ingin menjadi Universitas terkemuka
dan bermartabat (World Class
University)
dapat terealisasi, mungkin beberapa tahun yang akan datang, dan slogan seperti
itu tidak hanya sekedar pembohongan dan
citra pemimpin universitas.
Universiti
Malaya menjadi Universitas nomor satu di Malaysia tidak terlepas dari berbagai
aspek pendukungnya seperti dalam bidang akses transportasi yang begitu nyaman
dan merasa sangat jauh dari sesak dan keributan, di Universitas Andalas untuk
sampai kekampusnya saja memerlukan perjuangan yang begitu besar dengan harus
mengucurkan keringat, bagaimana tidak kalau untuk menunggu bus saja memerlukan
waktu yang lama (diwaktu-waktu tertentu) dan ditambah lagi harus
berdesak-desakkan ketika menaikinya.
Fasilitas
yang sangat mendukung lainnya adalah ruangan kuliah yang dingin, suasana yang
tentram dan terhindar dari suara-suara dari luar, baik itu suara mahasiswa atau
bising kendaraan, karena ruangannya didesain kedap suara dan penempatan kursi
yang baik, dibagian depan posisi dosen sangat terlihat jelas dan untuk alat
bantu di sediakan alat pengeras suara dan LCD digantung diatas loteng, sehingga
pelaksanaan kuliah berlangsung dengan sangat
baik. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kampus hijau Univerisitas
Andalas, ruangan kuliah yang hanya dilengkapi oleh pendingin alami, kalau harus
melakukan proses perkuliahan dengan menggunakan LCD, mahasiswa harus meminjam
dulu ke tempat peminjaman yang telah disediakan, hal yang paling menganggu
adalah ruangan kuliah yang tidak kedap suara dengan jendela yang terbuka dan
ventilasi udara juga banyak, sehingga suara-suara mahasiswa dan suara kendaraan
yang berada diluar lebih terdengar jelas dibandingkan dengan suara dosennya
sendiri.
Fasilitas
yang paling mendukung dalam sebuah universitas adalah pelayanan dan kuantitas
buku koleksinya. Sudah menjadi rahasia umum dan semua orang pasti akan
berpendapat sama, bahwa pustaka adalah jantungnya universitas dan lumbungnya
pengetahuan.
Pustaka
di Universiti Malaya memiliki beberapa kelebihan baik dari segi pegawai, jam
kunjungan, maupun dari segi koleksi, ditingkat Jurusan memiliki satu pustaka
dengan pelayanan dan kuantitas buku cukup banyak yang berkaitan dengan jurusan masing-masing dan sebagian besar
buku-buku yang ada di pustaka jurusan adalah karya dan hasil penelitian dari
setiap dosennya, setiap penelitian dosen harus dipublikasikan dan akan dibiayai
untuk Pembuatan bukunya dan buku yang dihasilkan akan diletakkan di pustaka
jurusan dan dapat digunakan sebagai panduan bagi setiap mahasiswa di jurusan.
setiap mahasiswa boleh membaca dan melakukan diskusi, pertemuan, dan seminar
kecil di ruang pustaka, karena di Pustaka Jurusannya memang disediakan fasilitas
yang cukup memadai untuk melaksanakan kegiatan tersebut seperti Komputer, LCD,
Layar Putih, Scanner dan tempat duduk yang melingkar seperti meja sidang DPR dengan berbagai fasilitas lain
yang mendukung seperti pendingin ruangan, sehingga kegiatan yang diadakan di
ruang pustaka menjadi sangat nyaman dan berjalan lancar. Setiap mahasiswa yang
ingin membaca akan betah duduk berlama-lama untuk membaca dan berdiskusi baik
masalah kuliah maupun masalah Pembuatan skripsi dan disertasi. Untuk mahasiswa
S2 mereka cukup duduk dan membaca diruang pustaka jurusan setiap hari untuk
menyelesaikan disertasinya, dan kalau membutuhkan buku tambahan tinggal
mencarinya di pustaka Univeristas.
Sebagai fasilitas tambahan disetiap jurusan
disediakan satu ruangan nyaman untuk melakukan browsing internet secara bebas
dan gratis dan itu dikelola oleh mahasiswa S2, setiap mahasiswa boleh
menggunakannya tidak terkecuali mahasiswa S1 dan koneksinyapun lumayan cepat dan praktis.
Mahasiswa
yang telah belajar dikelas dan mendapatkan pengetahuan hanya sebagian kecil
ilmu yang ditransfer dari dosen untuk menyempurnakan yang sedikit itu mereka
menambahnya dengan membaca berbagai
referensi yang berkaitan di pustaka jurusan maupun di pustaka universitas.
Pustaka Universitas memiliki gedung yang lebih besar dengan empat lantai dan
disetiap tingkatan lantai pasti dipenuhi dengan deretan dan jajaran buku-buku
yang siap menanti untuk dibaca dan jumlahnya sangat banyaknya dan dilengkapi
dengan sistem pencarian dengan sistem komputerisasi yang memudahkan, cukup
dengan memasukkan kode/nama buku yang kita cari misalnya kita mau mencari
buku-buku yang berkaitan dengan Sejarah Malaysia, dengan mengetikkan Sejarah
Malaysia saja, maka akan muncul judul-judul buku yang berkaitan dengan Sejarah Malaysia sesuai dengan koleksi yang
ada dan langsung menunjukkan kode dan
posisi bukunya. Sehingga sangat memudahkan dalam pencarian dan setiap mahasiswa
boleh meminjam buku sebanyak yang dibutuhkan dan boleh mengembalikannya apabila
tidak memakainya lagi atau paling lama satu semester. Mereka juga memiliki satu
pustaka tambahan yang berada diluar lingkungan kampus, apabila mencari buku
yang tidak tersedia di pustaka pusat maka akan langsung diberi informasi bahwa
buku yang dicari tersedia di pustaka yang lain.
Selama
berada dilingkungan kampus dan didalam ruangan pustaka sangat dilarang keras
merokok dan membuat keributan, setiap tingkat disediakan tempat untuk membaca,
tempat untuk melakukan browsing internet dengan gratis, dan ada satu ruangan
yang dipisahkan dengan cermin putih dan di dalamnya ada mahasiswa-mahasiswa S2
sedang mencari dan membaca dan di dalamnya sama sekali tidak boleh bersuara
karena tempat itu memang disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa yang serius dalam
belajar, tidak ketinggalan tempat untuk melakukan diskusi juga disediakan.
Mahasiswa yang masuk kepustaka univeristas harus meninggalkan semua barang
bawaannya di tempat yang telah disediakan dilantai dasar dan apabila membawa
laptop akan diperbolehkan membawanya. Dengan demikian mahasiswa yang berada
didalam pustaka akan lupa waktu, penulis pernah bertanya kepada salah seorang
teman, sekitar jam sepuluh malam, dari mana? saya study di library” penulis
berfikir sudah selarut ini pustakanya masih buka dan mahasiswanya masih sibuk
membaca dan membaca, tidak aneh rasanya jika mereka lebih memiliki pengetahuan
dan pemahaman yang lebih maju. Penulis membayangkan bagaimana seandainya di
Universitas Andalas juga seperti ini. Mungkin lima tahun atau beberapa tahun
kedepan bisa menyamai mereka atau paling tidak mengurangi jarak ketertinggalan
kita.
Jika
dibandingkan dengan Universitas Andalas ketersediaan dan kuantitas buku yang
tersedia di pustaka sekarang bisa dikatakan hanya sebagian kecil, sebagian
besar adalah buku-buku yang kurang bermanfaat bagi mahasiswa karena hanya
berupa buku-buku proyek. Hal itu diperparah dengan tidak bolehnya mahasiswa
meminjam lebih dari tiga judul buku dan harus mengembalikannya seminggu dari
tanggal peminjaman, karena memang jumlah buku yang ada tidak mencukupi dan sangat
kekurangan jika dibandingkan dengan
jumlah mahasiswa yang memerlukannya dan sebagian besar buku-buku yang tersedia
adalah buku-buku lama. Untuk mengatasi masalah ini tentu saja diharapkan kerja
keras dari pihak universitas untuk memantau dan selalu mencari buku-buku bagus
yang beredar dan tentu harus menempatkan orang-orang yang berkompeten dalam hal
ini. Dengan begitu universitas dapat membeli buku dengan jumlah yang
disesuaikan dengan jumlah mahasiswa yang membutuhkannya untuk satu judul buku,
yang selama ini memang hal itu menjadi masalah mendasar bagi mahasiswa yang
membutuhkan. Untuk satu judul buku sekitar lima puluh orang Sedangkan buku yang
tersedia hanya sepuluh buku untuk satu judul buku.
Pustaka
Fakultas dan pustaka Jurusan tidak jauh berbeda, mengalami masalah yang sama
yaitu kelangkaan buku dan kurangnya penambahan buku-buku baru menyebabkan
pengetahuan mahasiswanya lebih tidak
melihat bagaimana perkembangan terbaru dari ilmu pengetahuan. Pelayanan yang
tidak baik dan jam kunjungan pustaka yang hanya sampai jam empat sore, serta
tata letak buku juga menjadi kekurangan untuk mencari satu judul buku saja
mahasiswa harus menghabiskan waktu satu
hingga dua jam karena harus mencari secara manual dan harus membalik-balik satu
persatu buku yang berserakan di rak-rak lemari, sudah tahu demikian kondisinya
mahasiswa juga kurang perhatian dan tidak meletakkan buku ditempatnya setelah
membaca sehingga untuk mencari buku yang sama besoknya membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
“Membaca adalah budayanya manusia, manusia tidak akan punya peradaban
apabila tidak membaca. Bahkan Islam pun mengajarkan kata pertamanya yaitu
“Iqra” (bacalah). Bagaimana cara untuk menjadi manusia yang cerdas secara
peradaban apabila tidak membaca dan bagaimana cara membaca apabila buku untuk
dibaca itu sendiri yang tidak ada. Dan akhirnya masih berjalan ditempat dan
mimpi untuk menjadi yang terbaik hanya tinggal kenangan yang tertinggal di
ujung mimpi yang kelam.
Sangat abtraksi jadinya, jika Unand menginginkan menjadi Universitas
terkemuka dan bermartabat jika hal itu tidak diikuti dengan realita dan kinerja
yang optimal, slogan itu hanya akan menjadi sebuah ajang politik dan citra
pemimpin universitas, dapat disamakan dengan para anggota DPR yang hanya
membuat kepentingan politik yang bobrok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar