Selasa, 25 September 2012

DISPARITAS PENGETAHUAN



Oleh:
Ari Febrianto, Mahasiswa Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas

            Ketertinggalan Indonesia di bidang pendidikan dari negara-negara maju mungkin sudah bisa dimaklumi. Bahkan, kemajuan pendidikan di negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand di berbagai bidang sudah menjadi rahasia umum di Indonesia.
Cerita-cerita seperti ini selama ini seakan sebagai pengetahuan umum belaka di negara kita, khususnya di kalangan insan pendidikan. Tapi saat penulis bersama puluhan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Andalas melakukan studi banding dalam rangka pertukaran mahasiswa Unand dan Universiti Malaya, beberapa waktu lalu, cerita itu benar adanya.
UM sendiri sebagai universitas nomor satu di Malaysia memang membuktikan diri sebagai salah satu “pusat keunggulan” (center of excellent) Malaysia. UM memiliki berbagai fasilitas dan kemudahan akses seperti transportasi yang begitu nyaman, ruangan kuliah yang dingin, dan pustakanya yang sangat bagus baik dalam bidang pelayanan maupun  kuantitas buku koleksinya.
Malaysia yang konon kabarnya pada tahun 70-an belajar ke Indonesia, Sumatera Barat khususnya, tapi sekarang mereka berlari dengan sangat cepat, karena mereka didukung dengan fasilitas dan prasarana yang memadai, terutama dalam pengelolaan pustaka.  Tidak heran apabila dikatakan bahwa pustaka adalah jantungnya sebuah universitas.
Memang sangat tidak seimbang apabila mencoba membandingkan antara Univerisiti Malaya dengan Universitas Andalas, bahkan dengan beberapa Universitas lain di Indonesia. Tapi ini hanya sekedar motivasi agar Universitas Andalas yang notabennya ingin menjadi Universitas terkemuka dan bermartabat (World Class University) dapat terealisasi, mungkin beberapa tahun yang akan datang, dan slogan seperti itu  tidak hanya sekedar pembohongan dan citra pemimpin universitas.
            Universiti Malaya menjadi Universitas nomor satu di Malaysia tidak terlepas dari berbagai aspek pendukungnya seperti dalam bidang akses transportasi yang begitu nyaman dan merasa sangat jauh dari sesak dan keributan, di Universitas Andalas untuk sampai kekampusnya saja memerlukan perjuangan yang begitu besar dengan harus mengucurkan keringat, bagaimana tidak kalau untuk menunggu bus saja memerlukan waktu yang lama (diwaktu-waktu tertentu) dan ditambah lagi harus berdesak-desakkan ketika menaikinya.
            Fasilitas yang sangat mendukung lainnya adalah ruangan kuliah yang dingin, suasana yang tentram dan terhindar dari suara-suara dari luar, baik itu suara mahasiswa atau bising kendaraan, karena ruangannya didesain kedap suara dan penempatan kursi yang baik, dibagian depan posisi dosen sangat terlihat jelas dan untuk alat bantu di sediakan alat pengeras suara dan LCD digantung diatas loteng, sehingga pelaksanaan kuliah berlangsung dengan sangat  baik. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kampus hijau Univerisitas Andalas, ruangan kuliah yang hanya dilengkapi oleh pendingin alami, kalau harus melakukan proses perkuliahan dengan menggunakan LCD, mahasiswa harus meminjam dulu ke tempat peminjaman yang telah disediakan, hal yang paling menganggu adalah ruangan kuliah yang tidak kedap suara dengan jendela yang terbuka dan ventilasi udara juga banyak, sehingga suara-suara mahasiswa dan suara kendaraan yang berada diluar lebih terdengar jelas dibandingkan dengan suara dosennya sendiri.
            Fasilitas yang paling mendukung dalam sebuah universitas adalah pelayanan dan kuantitas buku koleksinya. Sudah menjadi rahasia umum dan semua orang pasti akan berpendapat sama, bahwa pustaka adalah jantungnya universitas dan lumbungnya pengetahuan.
            Pustaka di Universiti Malaya memiliki beberapa kelebihan baik dari segi pegawai, jam kunjungan, maupun dari segi koleksi, ditingkat Jurusan memiliki satu pustaka dengan pelayanan dan kuantitas buku cukup banyak yang berkaitan dengan  jurusan masing-masing dan sebagian besar buku-buku yang ada di pustaka jurusan adalah karya dan hasil penelitian dari setiap dosennya, setiap penelitian dosen harus dipublikasikan dan akan dibiayai untuk Pembuatan bukunya dan buku yang dihasilkan akan diletakkan di pustaka jurusan dan dapat digunakan sebagai panduan bagi setiap mahasiswa di jurusan. setiap mahasiswa boleh membaca dan melakukan diskusi, pertemuan, dan seminar kecil di ruang pustaka, karena di Pustaka Jurusannya memang disediakan fasilitas yang cukup memadai untuk melaksanakan kegiatan tersebut seperti Komputer, LCD, Layar Putih, Scanner dan tempat duduk yang melingkar seperti meja  sidang DPR dengan berbagai fasilitas lain yang mendukung seperti pendingin ruangan, sehingga kegiatan yang diadakan di ruang pustaka menjadi sangat nyaman dan berjalan lancar. Setiap mahasiswa yang ingin membaca akan betah duduk berlama-lama untuk membaca dan berdiskusi baik masalah kuliah maupun masalah Pembuatan skripsi dan disertasi. Untuk mahasiswa S2 mereka cukup duduk dan membaca diruang pustaka jurusan setiap hari untuk menyelesaikan disertasinya, dan kalau membutuhkan buku tambahan tinggal mencarinya di pustaka Univeristas.
Sebagai fasilitas tambahan disetiap jurusan disediakan satu ruangan nyaman untuk melakukan browsing internet secara bebas dan gratis dan itu dikelola oleh mahasiswa S2, setiap mahasiswa boleh menggunakannya tidak terkecuali mahasiswa S1 dan koneksinyapun  lumayan cepat dan praktis.
            Mahasiswa yang telah belajar dikelas dan mendapatkan pengetahuan hanya sebagian kecil ilmu yang ditransfer dari dosen untuk menyempurnakan yang sedikit itu mereka menambahnya  dengan membaca berbagai referensi yang berkaitan di pustaka jurusan maupun di pustaka universitas. Pustaka Universitas memiliki gedung yang lebih besar dengan empat lantai dan disetiap tingkatan lantai pasti dipenuhi dengan deretan dan jajaran buku-buku yang siap menanti untuk dibaca dan jumlahnya sangat banyaknya dan dilengkapi dengan sistem pencarian dengan sistem komputerisasi yang memudahkan, cukup dengan memasukkan kode/nama buku yang kita cari misalnya kita mau mencari buku-buku yang berkaitan dengan Sejarah Malaysia, dengan mengetikkan Sejarah Malaysia saja, maka akan muncul judul-judul buku yang berkaitan dengan  Sejarah Malaysia sesuai dengan koleksi yang ada dan langsung  menunjukkan kode dan posisi bukunya. Sehingga sangat memudahkan dalam pencarian dan setiap mahasiswa boleh meminjam buku sebanyak yang dibutuhkan dan boleh mengembalikannya apabila tidak memakainya lagi atau paling lama satu semester. Mereka juga memiliki satu pustaka tambahan yang berada diluar lingkungan kampus, apabila mencari buku yang tidak tersedia di pustaka pusat maka akan langsung diberi informasi bahwa buku yang dicari tersedia di pustaka yang lain.
            Selama berada dilingkungan kampus dan didalam ruangan pustaka sangat dilarang keras merokok dan membuat keributan, setiap tingkat disediakan tempat untuk membaca, tempat untuk melakukan browsing internet dengan gratis, dan ada satu ruangan yang dipisahkan dengan cermin putih dan di dalamnya ada mahasiswa-mahasiswa S2 sedang mencari dan membaca dan di dalamnya sama sekali tidak boleh bersuara karena tempat itu memang disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa yang serius dalam belajar, tidak ketinggalan tempat untuk melakukan diskusi juga disediakan. Mahasiswa yang masuk kepustaka univeristas harus meninggalkan semua barang bawaannya di tempat yang telah disediakan dilantai dasar dan apabila membawa laptop akan diperbolehkan membawanya. Dengan demikian mahasiswa yang berada didalam pustaka akan lupa waktu, penulis pernah bertanya kepada salah seorang teman, sekitar jam sepuluh malam, dari mana? saya study di library” penulis berfikir sudah selarut ini pustakanya masih buka dan mahasiswanya masih sibuk membaca dan membaca, tidak aneh rasanya jika mereka lebih memiliki pengetahuan dan pemahaman yang lebih maju. Penulis membayangkan bagaimana seandainya di Universitas Andalas juga seperti ini. Mungkin lima tahun atau beberapa tahun kedepan bisa menyamai mereka atau paling tidak mengurangi jarak ketertinggalan kita.
            Jika dibandingkan dengan Universitas Andalas ketersediaan dan kuantitas buku yang tersedia di pustaka sekarang bisa dikatakan hanya sebagian kecil, sebagian besar adalah buku-buku yang kurang bermanfaat bagi mahasiswa karena hanya berupa buku-buku proyek. Hal itu diperparah dengan tidak bolehnya mahasiswa meminjam lebih dari tiga judul buku dan harus mengembalikannya seminggu dari tanggal peminjaman, karena memang jumlah buku yang ada tidak mencukupi dan sangat kekurangan jika dibandingkan  dengan jumlah mahasiswa yang memerlukannya dan sebagian besar buku-buku yang tersedia adalah buku-buku lama. Untuk mengatasi masalah ini tentu saja diharapkan kerja keras dari pihak universitas untuk memantau dan selalu mencari buku-buku bagus yang beredar dan tentu harus menempatkan orang-orang yang berkompeten dalam hal ini. Dengan begitu universitas dapat membeli buku dengan jumlah yang disesuaikan dengan jumlah mahasiswa yang membutuhkannya untuk satu judul buku, yang selama ini memang hal itu menjadi masalah mendasar bagi mahasiswa yang membutuhkan. Untuk satu judul buku sekitar lima puluh orang Sedangkan buku yang tersedia hanya sepuluh buku untuk satu judul buku.
            Pustaka Fakultas dan pustaka Jurusan tidak jauh berbeda, mengalami masalah yang sama yaitu kelangkaan buku dan kurangnya penambahan buku-buku baru menyebabkan pengetahuan  mahasiswanya lebih tidak melihat bagaimana perkembangan terbaru dari ilmu pengetahuan. Pelayanan yang tidak baik dan jam kunjungan pustaka yang hanya sampai jam empat sore, serta tata letak buku juga menjadi kekurangan untuk mencari satu judul buku saja mahasiswa  harus menghabiskan waktu satu hingga dua jam karena harus mencari secara manual dan harus membalik-balik satu persatu buku yang berserakan di rak-rak lemari, sudah tahu demikian kondisinya mahasiswa juga kurang perhatian dan tidak meletakkan buku ditempatnya setelah membaca sehingga untuk mencari buku yang sama besoknya  membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
             “Membaca adalah budayanya manusia, manusia tidak akan punya peradaban apabila tidak membaca. Bahkan Islam pun mengajarkan kata pertamanya yaitu “Iqra” (bacalah). Bagaimana cara untuk menjadi manusia yang cerdas secara peradaban apabila tidak membaca dan bagaimana cara membaca apabila buku untuk dibaca itu sendiri yang tidak ada. Dan akhirnya masih berjalan ditempat dan mimpi untuk menjadi yang terbaik hanya tinggal kenangan yang tertinggal di ujung mimpi yang kelam.
Sangat abtraksi jadinya,  jika Unand menginginkan menjadi Universitas terkemuka dan bermartabat jika hal itu tidak diikuti dengan realita dan kinerja yang optimal, slogan itu hanya akan menjadi sebuah ajang politik dan citra pemimpin universitas, dapat disamakan dengan para anggota DPR yang hanya membuat kepentingan politik yang bobrok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar