Oleh : Rahayu Hermanda Putri
Minangkabau
merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang tersebar terutama di wilayah
Sumatera Barat. Orang Minangkabau akan merasa terhina jika dirinya disebut
tidak beradab karena semenjak Islam masuk ke Minangkabau, adat Minangkabau
mulai menyatu dengan ajaran Islam, seperti
istilah yang kita kenal yaitu adat basandi syarak, syarak basandi
kitabullah. Maksud dari konsep tersebut adalah orang yang tidak beradab akan
termasuk ke dalam kategori orang yang tidak beragama dalam masyarakat Minang.
Minangkabau
merupakan satu-satunya suku yang menganut sistem matrilineal di Indonesia.
Maksudnya, setiap anak yang lahir baik laki-laki maupun perempuan secara
langsung akan menjadi anggota keluarga suku ibu, karena di Minangkabau garis
keturunan ditarik berdasarkan keluarga Ibu. Orang Minangkabau juga sering pergi
merantau. Mereka berani pergi merantau karena sudah dibekali dengan ajaran
silat dan iman yang kuat. Oleh sebab itu orang Minag dikenal sebagai musim yang
taat.
Dewasa
ini, Budaya Minangkabau seperti telah kehilangan eksistensinya. Jangankan di
daerah lain, di daerah Sumatera Barat yang mayoritasnya bersuku Minang pun
mulai melupakan budaya mereka sendiri. Mereka seolah-olah malu akan budaya yang
telah diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang terdahulu. Generasi muda acuh tak acuh terhadap sejarah
Minangkabau, apa saja budaya yang terkandung didalamnya, bagaimanakah uniknya
budaya Minang, dsb. Para generasi muda cenderung lebih peduli dan bangga dengan
kebudayaan asing yang mulai bebas masuk kemana saja, termasuk di daerah
Minangkabau. Hal tersebut menjadi faktor utama yang mempengaruhi moral, etika,
gaya, pergaulan dan cara berperilaku generasi muda.
Lantas
apa sajakah Budaya Minangkabau yang mulai hilang seiring berkembangnya zaman
saat ini?
Mari
kita telaah beberapa diantara Budaya Minangkabau yang mulai hilang tersebut.
1.
Surau
sebagai tempat belajar dan mengajar
Anak
laki-laki Minang dahulunya menjadikan surau sebagai tempat diskusi, mencari dan
menuntut ilmu. Disana mereka belajar diajarkan mengaji dan silat bahkan tak
jarang mereka tidur pun di surau.
Kebiasaan
seperti ini sudah sangat jarang kita jumpai saat sekarang ini. Sebagian dari
mamak dan pemuda lebih mudah kita jumpai duduk di lapau (kadai) untuk sekedar minum kopi, bercengkerama atau bahkan
main domino.
2.
Rumah
Gadang sebagai tempat tinggal
Orang-orang
terdahulu bergotong royong mendirikan rumah gadang untuk dijadikan tempat
tinggal. Rumah gadang terdiri atas sembilan ruang dengan fungsi yang
berbeda-beda. Ada yang digunakan sebagai tempat tidur pribadi, kamar untuk anak
yang baru menikah dan ada pula yang
digunakan sebagai tempat tidur tamu. Di halaman rumah Gadang terdapat beberapa
rangkiang yaitu tempat untuk menyimpan beras. Rangkiang digunakan pada saat
kondisi sedang krisis pangan atau ada sanak saudara yang membutuhkan beras
untuk dimakan. Fungsi sosial dan ekonomi sangat jelas terlihat disini.
Namun,
saat ini Rumah Gadang sudah beralih fungsi menjadi tempat pertemuan untuk
menyelesaikan masalah, baik masalah antara anak dengan orangtua, antara suami
dengan istri, mamak dengan kemenakan, dsb. Rumah Gadang tidak dijadikan sebagai
tempat tinggal lagi. Orang Minang lebih
memilih untuk membangun rumah baru dengan design menyerupai rumah orang
Eropa. Di satu sisi sangat disayangkan
kita tidak tinggal di rumah gadang lagi, tapi di lain sisi kita harus pindah
dari rumah gadang karena bangunannya yang mulai rapuh. Fungsi rumah gadang
tidak ada salahnya dialihkan sebagai tempat pertemuan dan diskusi untuk menyelesaikan suatu masalah,
namun sejarah rumah gadang jangan sampai kita lupakan.
3.
Talempong
Talempong
adalah alat musik pukul khas Minangkabau. Talempong terbuat dari bahan
kuningan, tapi ada juga yang terbuat dari kayu dan batu. Talempong ini
berbentuk bundar dengan bagian berlobang dibawahnya sedangkan bagian atasnya
terdapat bundaran yang menonjol
berdiameter lima sentimeter sebagi tempat untuk dipukul. Talempong
memiliki nada-nada yang berbeda. Bunyi dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada
permukaannya. Talempong biasanya digunakan dalam pertunjukan atau penyambutan
seperti tari piring, tari pasambahan, dan tari gelombang, pada saat
iring-iringan marapulai-anak daro (talempong pacik).
Zaman
sekarang pemuda-pemudi Minang lebih senang memainkan piano dibandigkan
memainkan talempong. Padahal antara piano dan talempong memilki nada yang sama.
Hanya cara memainkannnya saja yang berbeda, jika piano dipencet tutsnya,
talempong dimainkan dengan memukul permukaannya. Yang lebih parahnya lagi
bahkan ada pemuda Minang yang tidak mengetahui sama sekali apa itu talempong
dan bagaimana bentuk talempong tersebut.
4.
Randai
Randai
merupakan salah satu permainan anak nagari di Minangkabau. Randai dimainkan
oleh beberapa orang sekitar 6-10 orang. Dalam randai ada seorang
pendendang yang akan membuka cerita dan memberi salam kepada penonton yang
diiringi oleh seorang pemain saluang.
Pada saat randai dimulai, para pemain terlebih dahulu memberi salam kepada
penonton. Setelah itu mereka melingkar dan memulai gerakan-gerakan silat dengan
nada hep-tah-tiah yang dipimpin oleh satu orang. Kemudian barulah kaba
(cerita)dimainkan sampai selesai.
Di
zaman era globalisasi ini randai kalah bersaing dengan permainan anak modern,
seperti band. Kebanyakan pemuda minang akan datang baramai-ramai menonton
pertunjukan band, sebaliknya mereka enggan untuk menonton pertunjukan randai.
Hal ini tentu saja akan membuat keberadaan randai berkurang karena untuk
menontonnya saja banyak yang enggan, apalagi mengambil peran di dalamnya.
5.
Baju
Kuruang
Siapa
sih yag tidak mengenal baju kuruang? Baju kuruang merupakan baju yang sering
digunakan Gadih Minang dan merupakan baju khas pemudi Minang saat itu.
Baju kuruang adalah baju yang longgar, tidak transparan, sopan, tertutup dari
leher sampai mata kaki dan dilengkapi dengan tutup kepala (jilbab,
selendang/kerudung) yang bentuknya beraneka ragam sesuai dengan daerahnya.
Dikaitkan
dengan zaman sekarang, jangankan generasi muda, perempuan yang sudah menikah
pun kini telah jarang dijumpai memakai baju kuruang.
Baju
kuruang dinilai kuno, tidak fashionable,panas, dan berbagai alasan lainnya.
Banyak kalangan yang menilai bahwa baju kuruang sudah tidak sesuai dengan
perkembangan zaman. Menurut saya pendapat ini tidak benar, buktinya dengan
berpakaian muslimah kita tetap bisa merasa nyaman dan bebas beraktifitas.
Bukankah baju kuruang hampir sama dengan baju muslimah? Inti dari baju kuruang
adalah longgar, tidak transparan, sopan dan memakai kerudung. Hal ini sama
dengan baju yang dipakai seorang muslimah dalam Islam karena budaya Minangkabau
merupakan akulturasi budaya Islam. Pakaian ketat, transparan, tidak menggunakan
jilbab bukanlah budaya orang Minangkabau. Budaya yang seperti itu merupakan
budaya orang asing yang sangat bertentangan dengan budaya kita sendiri.
6.
Makan
Bajamba, duduak basimpuah dan baselo serta makan dengan tangan.
Makan
bajamba merupakan budaya orang
Minangkabau. Makan bajamba dilakukan dengan cara duduk melingkar, duduk baselo
bagi laki-laki dan basimpuah bagi perempuan. Nasi dan sambal diletakkan di atas
daun pisang (sepanjang daun pisang tersebut). Kemudian nasi mulai dimakan
bersama secara serentak. Orang minang makan tidak menggunakan sendo melainkan
dengan menggunakan tangan.
Namun,
dapat kita lihat zaman sekarang budaya makan bajamba sangat jarang ditemukan.
Orang Minang lebih sering makan sendiri-sendiri dan mulai meniru budaya barat
yaitu makan dengan menggunakan sendok. Makan dengan sendok ini sih wajar saja
dilakukan, akan tetapi sebaiknya digunakan pada saat acara-acara tertentu saja
seperti menghadiri kenduri, dsb. Jadi, Budaya makan bajamba dan makan dengan tangan jangan sampai kita tinggalkan
apalagi dilupakan.
Itulah
beberapa contoh realita kebudayaan Minang yang mulai hilang ditelan zaman. Kita
sebagai generasi muda jangan hanya berdiam diri saja, buktikan bahwa semangat
jiwa muda kita itu masih menyala untuk melestarikan budaya Minangkabau yang
unik dan tidak kalah menarik dengan kebudayaan asing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar