Selasa, 25 September 2012

NYATANYA DEGRADASI MORAL



      Arus kehidupan yang semakin dalam dan membahayakan, membuat kita tidak sempat menyiapkan diri untuk berenang di tengahnya. Tak lagi mengenal usia, status sosial bahkan ekonomi, arus ini terus saja menyeret kita.
   
 Krisis Hiburan Dunia Anak
       Ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam, tepatnya pada tahun 90-an. Di era ini lagu anak-anak seusia saya masih sangat populer. Chikita Meidy, trio kwek-kwek, giovanni, sampai meissy adalah nama-nama artis cilik yang sangat terkenal di kalangan seusianya, tak terkecuali saya.
      Cukup lama perjalanan mereka menghiasi pertelevisian Indonesia. Lagu-lagu khas anak-anak begitu digandrungi di zamannya. Berbagai macam acara seolah berlomba menayangkan hiburan khusus anak-anak.
      Menyenangkan memang mengenang masa kecil. Masa dimana saya (dan kita semua) punya kehidupan dan kebahagiaan yang lepas. Lalu, apa yang kita temui saat ini?. Program televisi seakan enggan, dengan alasan “ udah nggak zamannya”   mereka tak lagi memberikan suguhan berbau hiburan ( khusus untuk anak).
      Coba tanyakan kepada anak-anak usia 5-10 tahun, lagu dan artis mana yang mereka sukai? Kita akan menemukan jawaban yang beragam, dan hampir dapat dipastikan jawaban mereka tidak menyertakan nama-nama artis seusianya. Kenapa? Sungguh pertanyaan yang miris.

 Kawula muda, apa yang kau cari?
      Dugem yuk……?
      Belajar? Ntar aja ya………….
      Hari gini belum pacaran? Basi lo….

      Saya pribadi sangat setuju jika ada pendapat yang menyatakan bahwasanya masa muda adalah masa yang paling indah, masa dimana ( katanya ) kita sedang mencari-cari jati diri. Ada yang mengisi masa pubertas ini dengan hal-hal positif, seperti ikut kegiatan sosial di sekolah / kampus, menghadiri seminar-seminar atau mungkin menjadi peserta di berbagai macam  perlombaan berbau akademis. Subhanallah, semoga apa yang mereka lakukan dapat membawa manfaat baik bagi diri sendiri, keluarga maupun sekolah. Lalu, bagaimana dengan remaja lainnya? Bolos sekolah dengan alasan boring di kelas bahkan tawuran antar sekolah kerap menjadi agenda rutin pelajar di kota-kota besar, walaupun tidak menutup kemungkinan hal ini juga terjadi di daerah pinggiran.
      Mereka lupa akan satu hal, amanah yang dipikul begitu berat. Harapan orang tua, harapan sekolah, harapan negara dan bangsa bertengger di pundaknya. Saat kita mengetahui alasan di balik tawuran tersebut, kadang tak masuk akal. Toleransi terhadap teman, membela nama sekolah atau karena merasa tersinggung saat pelajar dari sekolah lain mengejeknya, sungguh miris. Memang, siapa yang tidak marah jika tempat ia menuntut ilmu direndahkan, saya pun mungkin akan sangat geram jika hal itu saya alami. Tapi bukan berarti cara tawuran dapat menyelesaikan semuanya. Banyak yang dirugikan dan dikorbankan, harta bahkan nyawa bisa jadi taruhannya.
     Jika saya bertanya defenisi pacaran kepada para remaja, tentu akan sangat beragam jawaban yang saya temukan. Pada intinya istilah ini ( baca : pacaran ) sering dipakai dalam menggambarkan kondisi dimana sepasang kawula muda sedang menjalin kedekatan yang lebih dari sekedar teman. Sebagai seorang yang beragama ( muslim ), segala perilaku dan tindak tanduk di muka bumi ini tentu tidak lepas dari “pedomannya” dan saya yakin kita sama-sama tahu tidak ada istilah itu dalam Al Quran. Entah dari sudut mana kita memandang kalau belum punya seseorang itu akan dianggap ketinggalan zaman, kuno dan nggak gaul . Semoga cinta-Nya selalu dilimpahkan pada umat-Nya
     Fashionable begitu populer di telinga kita, atau jika saya tidak salah dalam penulisannya kita juga sering menyebutnya trend berpakaian yang up to date. Wah, kalau membahas hal yang satu ini kita tidak boleh melepaskan “sumbernya”, majalah fashion. Pentingnya penampilan tidak bisa dipungkiri juga merupakan satu diantara banyak hal yang kerap kali jadi perhatian utama khususnya kaum hawa.
    Sulit menggambarkan begitu pentingnya keindahan  penampilan dalam pandangan para wanita. Rasa nyaman, cocok dengan ukuran badan dan indah dilihat merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih busana / pakaian. Satu hal yang ingin saya tanyakan. Pernahkah kita ( baca: wanita muslim) merenung, dan bertanya pada diri sendiri, sebenarnya di dalam Islam bagaimanakah berpakaian yang baik itu? Jika tidak menemukan jawabannya saya beri bocoran : silakan anda buka Al Quran surat Al Ahzab ayat 59.

Yakinlah! anda adalah pemimpin
       Sering kali kita mendengar kata bijak “ setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya”.
       Dari kalimat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa setiap umat di muka bumi ini merupakan pemimpin terutama untuk dirinya sendiri. Apa yang kita lihat, dengar dan lakukan akan dimintai tanggung jawabnya. Mulut, hidung, mata, rambut, sepasang tangan dan kaki bahkan organ terkecil dalam tubuh kita akan bersaksi di depan Yang Punya Hidup, percayalah!
       Kita ambil contoh yang paling dekat, ayah. Pemimpin untuk keluarga, istri dan anak-anaknya. Saya memang tidak begitu memahami bagaimana peran seorang ayah dalam keluarga, tapi yang pasti tentu menjadi kompas dalam menempuh perjalanan bernama hidup terutama untuk keluarganya.
     Identik dengan wibawa yang tinggi, tegas dalam mengambil keputusan, punya senyum termanis dan berdedikasi tinggi terhadap keluarga. Lalu, coba bayangkan bila seandainya sosok seperti di atas berganti menjadi sosok yang justru ditakuti oleh anak-anaknya, tak lagi dihormati oleh istrinya.
     Berbicara tentang moral, memang sering menjurus kepada remaja, tapi hal ini juga berlaku untuk orang-orang yang seharusnya menjadi pemandu dalam arahan yang lebih baik. Kita sudah tidak awam lagi dengan permasalahan remaja yang meruncing pada hal etika dan sopan santun. Menurut buku psikologi yang saya baca, keluarga merupakan faktor utama dalam pembentukan kepribadian.
    Jika seorang anak bertingkah di luar batas kesopanan, kita patut  bertanya ,bagaimana keluarga ( ayah dan ibu ) memberikan pelajaran moral tersebut. Memberi kebebasan pada anak memang tidak ada salahnya apalagi menyangkut hobi dan memilih teman, akan tetapi demi mendapat gelar bonyok gue gaul, para orang tua sering kebablasan.
    Bukan pemandangan yang aneh lagi jika pada sore menjelang malam, kita sering melihat anak cucu adam berlainan jenis asyik duduk berdua-duaan di tempat yang terkesan seperti di khususkan, bahkan tidak jarang demi alasan keamanan tempat tersebut diberi pembatas. Jika yang duduk di sana merupakan sepasang suami istri, saya sendiri pun tidak akan berani memberi komentar lebih jauh, lain halnya apabila mereka baru sebatas……..( bahkan sampai di sini saya tidak berani melanjutkan).
      Apa sudah sebegitu parahnya para orang tua memberi kebebasan pada anak-anaknya?
Apa mereka lupa bahwa Allah melihat malaikat mencatat? Sungguh tidak ada niat dalam diri saya untuk menggurui para orang tua, mungkin sedikit berbagi pemikiran saja, ada baiknya mungkin kita ( para remaja ) dan anda ( para orang tua ) saling memperbaiki kualitas diri.
     Pengikisan etika dan moral para generasi muda semakin nyata wujudnya. Jika sedari muda kita sudah lupa akan pentingnya menjaga diri, bagaimana jikalau nanti kita diberi amanat untuk menjaga titipan Illahi?     
-          Giva Putri Maryesya, Sastra Indonesia   -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar