Arus kehidupan yang semakin dalam dan
membahayakan, membuat kita tidak sempat menyiapkan diri untuk berenang
di tengahnya. Tak lagi mengenal usia, status sosial bahkan ekonomi, arus ini
terus saja menyeret kita.
Krisis Hiburan Dunia Anak
Ingatan saya melayang ke beberapa
tahun silam, tepatnya pada tahun 90-an. Di era ini lagu anak-anak seusia saya
masih sangat populer. Chikita Meidy, trio kwek-kwek, giovanni, sampai meissy
adalah nama-nama artis cilik yang sangat terkenal di kalangan seusianya, tak
terkecuali saya.
Cukup lama perjalanan mereka menghiasi
pertelevisian Indonesia .
Lagu-lagu khas anak-anak begitu digandrungi di zamannya. Berbagai macam acara
seolah berlomba menayangkan hiburan khusus anak-anak.
Menyenangkan memang mengenang masa kecil. Masa dimana saya (dan kita
semua) punya kehidupan dan kebahagiaan yang lepas. Lalu, apa yang kita temui
saat ini?. Program televisi seakan enggan, dengan alasan “ udah nggak
zamannya” mereka tak lagi memberikan
suguhan berbau hiburan ( khusus untuk anak).
Coba tanyakan kepada anak-anak usia 5-10
tahun, lagu dan artis mana yang mereka sukai? Kita akan menemukan jawaban yang
beragam, dan hampir dapat dipastikan jawaban mereka tidak menyertakan nama-nama
artis seusianya. Kenapa? Sungguh pertanyaan yang miris.
Kawula muda, apa yang kau cari?
Dugem yuk……?
Belajar? Ntar aja ya………….
Hari gini belum pacaran? Basi lo….
Saya
pribadi sangat setuju jika ada pendapat yang menyatakan bahwasanya masa muda
adalah masa yang paling indah, masa dimana ( katanya ) kita sedang mencari-cari
jati diri. Ada yang mengisi masa pubertas ini dengan hal-hal positif,
seperti ikut kegiatan sosial di sekolah / kampus, menghadiri seminar-seminar
atau mungkin menjadi peserta di berbagai macam
perlombaan berbau akademis. Subhanallah, semoga apa yang mereka lakukan
dapat membawa manfaat baik bagi diri sendiri, keluarga maupun sekolah. Lalu,
bagaimana dengan remaja lainnya? Bolos sekolah dengan alasan boring di kelas bahkan tawuran antar
sekolah kerap menjadi agenda rutin pelajar di kota-kota besar, walaupun tidak
menutup kemungkinan hal ini juga terjadi di daerah pinggiran.
Mereka lupa akan satu hal, amanah yang
dipikul begitu berat. Harapan orang tua, harapan sekolah, harapan negara dan
bangsa bertengger di pundaknya. Saat kita mengetahui alasan di balik tawuran
tersebut, kadang tak masuk akal. Toleransi terhadap teman, membela nama sekolah
atau karena merasa tersinggung saat pelajar dari sekolah lain mengejeknya,
sungguh miris. Memang, siapa yang tidak marah jika tempat ia menuntut ilmu
direndahkan, saya pun mungkin akan sangat geram jika hal itu saya alami. Tapi
bukan berarti cara tawuran dapat menyelesaikan semuanya. Banyak yang dirugikan
dan dikorbankan, harta bahkan nyawa bisa jadi taruhannya.
Jika saya bertanya defenisi pacaran kepada
para remaja, tentu akan sangat beragam jawaban yang saya temukan. Pada intinya istilah
ini ( baca : pacaran ) sering dipakai dalam menggambarkan kondisi dimana
sepasang kawula muda sedang menjalin kedekatan yang lebih dari sekedar teman.
Sebagai seorang yang beragama ( muslim ), segala perilaku dan tindak tanduk di
muka bumi ini tentu tidak lepas dari “pedomannya” dan saya yakin kita sama-sama
tahu tidak ada istilah itu dalam Al Quran. Entah dari sudut mana kita memandang
kalau belum punya seseorang itu akan dianggap ketinggalan zaman, kuno
dan nggak gaul . Semoga cinta-Nya selalu dilimpahkan pada umat-Nya
Fashionable begitu populer di telinga
kita, atau jika saya tidak salah dalam penulisannya kita juga sering
menyebutnya trend berpakaian yang up to date. Wah, kalau membahas hal
yang satu ini kita tidak boleh melepaskan “sumbernya”, majalah fashion.
Pentingnya penampilan tidak bisa dipungkiri juga merupakan satu diantara banyak
hal yang kerap kali jadi perhatian utama khususnya kaum hawa.
Sulit menggambarkan begitu pentingnya
keindahan penampilan dalam pandangan
para wanita. Rasa nyaman, cocok dengan ukuran badan dan indah dilihat merupakan
faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih busana / pakaian. Satu hal yang
ingin saya tanyakan. Pernahkah kita ( baca: wanita muslim) merenung, dan
bertanya pada diri sendiri, sebenarnya di dalam Islam bagaimanakah berpakaian
yang baik itu? Jika tidak menemukan jawabannya saya beri bocoran : silakan anda
buka Al Quran surat
Al Ahzab ayat 59.
Yakinlah!
anda adalah pemimpin
Sering kali kita mendengar kata
bijak “ setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya”.
Dari kalimat di atas kita dapat
menyimpulkan bahwa setiap umat di muka bumi ini merupakan pemimpin terutama
untuk dirinya sendiri. Apa yang kita lihat, dengar dan lakukan akan dimintai
tanggung jawabnya. Mulut, hidung, mata, rambut, sepasang tangan dan kaki bahkan
organ terkecil dalam tubuh kita akan bersaksi di depan Yang Punya Hidup,
percayalah!
Kita ambil contoh yang paling dekat,
ayah. Pemimpin untuk keluarga, istri dan anak-anaknya. Saya memang tidak begitu
memahami bagaimana peran seorang ayah dalam keluarga, tapi yang pasti tentu
menjadi kompas dalam menempuh perjalanan bernama hidup terutama untuk
keluarganya.
Identik dengan wibawa yang tinggi, tegas
dalam mengambil keputusan, punya senyum termanis dan berdedikasi tinggi terhadap
keluarga. Lalu, coba bayangkan bila seandainya sosok seperti di atas berganti
menjadi sosok yang justru ditakuti oleh anak-anaknya, tak lagi dihormati oleh
istrinya.
Berbicara tentang moral, memang sering
menjurus kepada remaja, tapi hal ini juga berlaku untuk orang-orang yang
seharusnya menjadi pemandu dalam arahan yang lebih baik. Kita sudah tidak awam
lagi dengan permasalahan remaja yang meruncing pada hal etika dan sopan santun.
Menurut buku psikologi yang saya baca, keluarga merupakan faktor utama dalam
pembentukan kepribadian.
Jika seorang anak bertingkah di luar batas
kesopanan, kita patut bertanya
,bagaimana keluarga ( ayah dan ibu ) memberikan pelajaran moral tersebut.
Memberi kebebasan pada anak memang tidak ada salahnya apalagi menyangkut hobi
dan memilih teman, akan tetapi demi mendapat gelar bonyok gue gaul, para
orang tua sering kebablasan.
Bukan pemandangan yang aneh lagi jika pada
sore menjelang malam, kita sering melihat anak cucu adam berlainan jenis asyik
duduk berdua-duaan di tempat yang terkesan seperti di khususkan, bahkan tidak
jarang demi alasan keamanan tempat tersebut diberi pembatas. Jika yang duduk di
sana merupakan
sepasang suami istri, saya sendiri pun tidak akan berani memberi komentar lebih
jauh, lain halnya apabila mereka baru sebatas……..( bahkan sampai di sini saya
tidak berani melanjutkan).
Apa sudah sebegitu parahnya para orang
tua memberi kebebasan pada anak-anaknya?
Apa
mereka lupa bahwa Allah melihat malaikat mencatat? Sungguh tidak ada niat dalam
diri saya untuk menggurui para orang tua, mungkin sedikit berbagi pemikiran
saja, ada baiknya mungkin kita ( para remaja ) dan anda ( para orang tua )
saling memperbaiki kualitas diri.
Pengikisan etika dan moral para generasi
muda semakin nyata wujudnya. Jika sedari muda kita sudah lupa akan pentingnya
menjaga diri, bagaimana jikalau nanti kita diberi amanat untuk menjaga titipan
Illahi?
-
Giva Putri Maryesya, Sastra Indonesia -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar